Enaknya Jadwal 14/14

Puji Tuhan. Gw baru sadar kalo ternyata gw cukup beruntung untuk punya jadwal kerja yang mendukung suasana untuk every now and then ngeliat ke belakang dan mengevaluasi.

Jadi jadwal gw 14 hari on duty, 14-nya off duty. One of the best thing of having this work schedule adalah, gw ga perlu berurusan dengan macet (yang bikin orang ‘tua’ di jalan). Gw pun jadi bisa alternate antara pemandangan yang scenery-nya jauh lebih baik daripada urban Jakarta; laut dan ombak yang menepuk pantai. Belom lagi udaranya yang jauh lebih bersih dibanding di kota.

Continue reading

Advertisements

Sukacitaku Penuh!

Puji Tuhan. Gue ga inget kapan terakhir gue se-sukacita ini. Rasanya kayak pengen nari-nari, joget-joget, nyanyi-nyanyi sendiri like nobody’s watching, like no one’s listening. Tapi sayangnya, karena faktor jawib (jaga wibawa, bukan imej), itu hanya bisa gue lakuin di kamar mandi mes tempat gw berada sekarang (I’m a bathroom singer & dancer, so what? Haha). Di situ, gue bisa lebih rusuh, serusuh dan seseru James Marsden di “Hairspray” pas lagi Corny Collins Show.

Ahahah. That happy I am. Gue jadi baru bisa ngerasain apa yang disampein oleh satu lagu yang lagi kept on playing in my head over and over again, yang bunyinya contains the lyrics “sebab hanya Tuhan yang membuat sukacitaku penuh”. Amen to that!

Continue reading

Kenapa Menikmati Itu Ga Harus Memiliki

Smile

Enjoy + Syukur = Happy

Semua dimulai ketika seorang temen nanya gimana ceritanya orang baik yang bekerja keras itu bisa kalah sama orang curang yang pake jalan pintas. Waktu itu dia baru aja dirundung malang: ditipu di urusan bisnis, which costed him his hard-earned liquid wealth in the process. Dari situ dia ngebandingin kegagalannya sama kemewahan yang berhasil dinikmatin sama koruptor yang somehow belakangan ini sering muncul di tivi. Singkatnya, dia terus nanya (sambil becanda), apakah dia sebaiknya curang aja juga, demi ngedapetin kemudahan dalam hidup?

Just about right there, he committed a flagrant error for making such naive statement. He saw himself as the one outcompeted. Good news is, he never was. Dia, kayak kebanyakan orang, salahnya terletak di caranya ngenilai orang lain. Yang dinilai (sayangnya) cuma didasarin dari yang keliatan dia punya aja. Yang ga keliatan kayak hati dan kasihnya, ga ikut kenilai.

Continue reading