Keluarga Nomor Satu, Setelah Tuhan

Family-CutoutI’ve been having this on my mind for quite some time.

Setiap kali gw pulang dari lapangan, rekan kerja selalu ngajakin untuk tinggal lebih lama dulu di Bali, sebelom pulang. Waktu itu gw kerja di kilang gas di pulau Pagerungan Besar, sekitar 1-jam perjalanan naik chopper ke utara Bali. Jadi gw selalu transit dulu di Denpasar, buat tek-tok ke Jakarta. Tapi somehow selalu gw tolakin, at the risk of being labeled ‘ga asik’

Frankly, it’s just that the very thought of seeing my family again never fails to light me up. Every. Single. Time. That’s how much they mean to me. Segitu rindunya gw akan bokap-nyokap, kakak-kakak gw dan ponakan gw, yang super lucu dan makin pinter (udah bisa gw ajarin kegilaan gw sedikit demi sedikit). Ditambah lagi gw pulang ke tempat di mana gw bisa jadi diri gw yang segila mungkin, tanpa penghakiman dari yang lain dan keharusan untuk jaga wibawa. Plus, ada faktor sayang duit juga sih. Sepeser-sepeser lumayan juga kalo ditabung.

Continue reading

Advertisements

Sukacitaku Penuh!

Puji Tuhan. Gue ga inget kapan terakhir gue se-sukacita ini. Rasanya kayak pengen nari-nari, joget-joget, nyanyi-nyanyi sendiri like nobody’s watching, like no one’s listening. Tapi sayangnya, karena faktor jawib (jaga wibawa, bukan imej), itu hanya bisa gue lakuin di kamar mandi mes tempat gw berada sekarang (I’m a bathroom singer & dancer, so what? Haha). Di situ, gue bisa lebih rusuh, serusuh dan seseru James Marsden di “Hairspray” pas lagi Corny Collins Show.

Ahahah. That happy I am. Gue jadi baru bisa ngerasain apa yang disampein oleh satu lagu yang lagi kept on playing in my head over and over again, yang bunyinya contains the lyrics “sebab hanya Tuhan yang membuat sukacitaku penuh”. Amen to that!

Continue reading

We Don’t Know What We’ve Got Until It’s Gone

Shoutout buat Aloysius Gonzaga a.k.a. Abang Pempie, atas inspirasinya buat tulisan ini! God watches over you, wherever you are now.

Kehilangan itu emang ga enak ya? Kejadiannya, selain tanpa setau atau persetujuan kita, umumnya pun dadakan. Jarang bisa diprediksi kapannya. Dan ini dialamin oleh semua orang, tanpa terkecuali.

The first thing that comes to mind, kalo orang ngebahas tentang kehilangan itu adalah pencuri. Jadi, kalo definisi kehilangan itu adalah things that are taken away from us, maka by definition yang sama, setiap orang adalah pencuri. Kok? Karena setiap orang itu ngambil sesuatu dari yang lain. Ini akan berarti juga kalo Tuhan itu pun pencuri, karena Tuhan pun juga ngambil sesuatu dari kita.

Continue reading