Tuhan, Jangan Jatuhkan Hatiku Di Tempat Yang Salah

*Author’s note: Read this piece in tandem with “The Right Time To Get Married“.

Of all the prayers my dear mother has taught me, the one I remember the most adalah, “Tuhan, jangan jatuhkan hatiku di tempat yang salah”. But only as I grew older, did I begin to understand the delicate matters of the heart, and how it could have fallen in all the wrong places.

Jatuh hati itu bukan persoalan yang sepele. Makanya lagu-lagu chart-toppers di blantika musik itu didominasi lagu cinta (melulu). Kalo yang namanya hati udah menclok pada sesuatu, ato seseorang, orang bisa jadi head over heels, seakan-akan disihir, oleh apapun yang udah mincut hati mereka. Bulan pun, ibarat kalo bisa mereka ambil, akan mereka bungkus dan pitain jadi kado untuk si pemikat itu. Ini sebenernya bisa jadi hal yang baik (syukur), tapi bisa juga jadi buruk (ini yang mesti diwaspadain).

Buruk adalah ketika hati orang itu jatuh di tempat yang salah (tentunya), apalagi sampe jadi gelap mata. Contohnya, suka sama pria yang udah berkeluarga; Sama wanita yang dikaruniai kemolekan fisik yang luar biasa, tapi ternyata ga setia (polyamorous relationship, anyone?), materialistik, ga mengasihi orangtua, dan concern-nya cuma ke hal-hal yang superficial aja; Ato suka sama cowok yang ternyata ringan tangan (alias hobi mukulin cewek/istrinya, ini yang rada keterlaluan); Ato misal sama cewek yang ternyata ngidap daddy issues, ato yang taunya ga punya basic skills untuk ngurus rumah tangga.

Continue reading

Advertisements

The Right Time to Get Married

Alkisah seorang anak laki-laki bernama Budi, selepas wisuda sekolah menengah atasnya, bertanya kepada ayahnya apa yang harus ia lakukan selanjutnya pasca kelulusan jenjang wajib sekolahnya. Si ayah lantas menjawab bahwa Budi sebaiknya go to college. Fast forward sekian tahun kemudian, Budi berada pada hari kelulusan kuliahnya, dan iapun bertanya lagi pada ayahnya, tentang apa yang harus dia lakukan berikutnya.

Si ayah terdiam sejenak, lalu menyarankan bahwa mungkin ia sebaiknya get a job. Budi did just that. Fast forward lagi ke beberapa tahun ke depan, Budi yang sudah bekerja lalu bertanya lagi kepada ayahnya, pertanyaan sama yang ayahnya pernah dengar sebelumnya, “Dad, now what?” Si ayah dengan tidak yakin kemudian menjawab, “I don’t know. Get married.”

Continue reading