Keluarga Nomor Satu, Setelah Tuhan

Family-CutoutI’ve been having this on my mind for quite some time.

Setiap kali gw pulang dari lapangan, rekan kerja selalu ngajakin untuk tinggal lebih lama dulu di Bali, sebelom pulang. Waktu itu gw kerja di kilang gas di pulau Pagerungan Besar, sekitar 1-jam perjalanan naik chopper ke utara Bali. Jadi gw selalu transit dulu di Denpasar, buat tek-tok ke Jakarta. Tapi somehow selalu gw tolakin, at the risk of being labeled ‘ga asik’

Frankly, it’s just that the very thought of seeing my family again never fails to light me up. Every. Single. Time. That’s how much they mean to me. Segitu rindunya gw akan bokap-nyokap, kakak-kakak gw dan ponakan gw, yang super lucu dan makin pinter (udah bisa gw ajarin kegilaan gw sedikit demi sedikit). Ditambah lagi gw pulang ke tempat di mana gw bisa jadi diri gw yang segila mungkin, tanpa penghakiman dari yang lain dan keharusan untuk jaga wibawa. Plus, ada faktor sayang duit juga sih. Sepeser-sepeser lumayan juga kalo ditabung.

Continue reading

Jangan Simpan Masalah Sendirian

9f44e956e3a2b7b5598c625fcc802c36-38-the-most-common-argumentative-fallacies-we-abuse

Gw tiba-tiba inget akan satu pesan emas dari mak gw: seseorang akan keliatan aslinya ketika berhadapan dengan masalah. Ada yang berani, beberapanya lagi suka kabur-kaburan. Tapi ada juga kalanya masalah yang lagi dihadapin itu bagai badai — alias gede banget.

Dan yang namanya masalah, mau segede apapun, itu bakal lebih ringan kalo ditanggung bareng-bareng. That is, di-share dengan confidant terpercayanya (both mean the same thing anyway). Tapi yang anehnya adalah, ada aja orang-orang yang kekeuh banget ga mau nge-share innermost feelings-nya ke yang lain. Sebenernya sih, ini gapapa aja kalo ga nyeret yang lain ikut masuk pusaran masalah. Tapi kalo udah nyangkut stabilitas hidup lingkaran-satu-nya dia, it’s no longer pretty. Bokap gw sendiri salah satunya.

Continue reading

Neither A Winner Nor A Loser, But A Chooser

Life. I think I’ve arrived at the point where most people starts to wonder what it is all about. Simply put, it’s a journey. Given that average life expectancy is 75 years, gw bisa dibilang udah tutup buku sepertiga awal chapter kehidupan gw, and welcoming the scary yet exciting second third. Udah cukup gede untuk bisa look back ke masa lalu yang membentuk siapa gw sekarang, tapi masi terlalu kecil to venture into the unknown world of adult life, all by myself. Masalah-masalah mulai nunjukkin diri satu per satu dalam segala bentuk dan ukurannya. Pilihan-pilihan sulit mulai dateng dan bikin bingung nan bimbang. It’s so overwhelming, I wish time would stop so I can catch my breath. But it wouldn’t. It marches inexorably, and it waits for no one.

Continue reading