Musuh Terbesar Kita

Apa kesamaan antara orang yang ragu, minder, mereka yang putus asa, skeptis dan pesimis, mereka yang rendah diri dan mereka yang mudah nyerah? Kesemuanya adalah korban. Korban yang berhasil diperdaya oleh sosok abstrak; sebut saja Si Jahat (julukan tidak disamarkan). Tunggu, diperdaya?

Semua gejala tadi sebenernya adalah rupa intimidasi yang dilancarkan oleh Si Jahat ke kita. Analoginya mirip dengan panah api yang ditembakin musuh. Serangannya biasanya termanifestasikan dalam bentuk negative self-talk — yang kalo di adegan psychological thriller, digambarin si karakter lagi having internal struggle with maddening whispers inside his/her head.

Continue reading

Advertisements

We Don’t Know What We’ve Got Until It’s Gone

Shoutout buat Aloysius Gonzaga a.k.a. Abang Pempie, atas inspirasinya buat tulisan ini! God watches over you, wherever you are now.

Kehilangan itu emang ga enak ya? Kejadiannya, selain tanpa setau atau persetujuan kita, umumnya pun dadakan. Jarang bisa diprediksi kapannya. Dan ini dialamin oleh semua orang, tanpa terkecuali.

The first thing that comes to mind, kalo orang ngebahas tentang kehilangan itu adalah pencuri. Jadi, kalo definisi kehilangan itu adalah things that are taken away from us, maka by definition yang sama, setiap orang adalah pencuri. Kok? Karena setiap orang itu ngambil sesuatu dari yang lain. Ini akan berarti juga kalo Tuhan itu pun pencuri, karena Tuhan pun juga ngambil sesuatu dari kita.

Continue reading

Mengapa Kita Kuatir?

Semua orang pernah kuatir, every now and then. We know it’s not a pleasant feeling. Kalo aja ga ada kuatir, hidup jaminan jadi nyaman dan nikmat. Tapi dia akan selalu ada, karena penyebab kuatir sebenernya adalah ketidakpastian, sedangkan ketidakpastian adalah (satu-satunya) hal yang pasti dalam hidup. Dan ada rasa ketidakberdayaan yang muncul dari ketidakpastian, akibat tiadanya kendali atas yang akan terjadi dalam hidup.

Continue reading