Her Name Is…

Setelah ketemu berbagai macem orang dan kekumpul seabrek bahan buat nge-compare, gw bersyukur kalo ternyata apa yang gw punya itu lebih daripada orang lain. Asli. Termasuk di dalemnya adalah, hubungan pribadi gw dengan abang gw.

We complement each other very well. Apa yang gw ga punya, dia ada. Apa yang dia ga punya, gw ada. Lucu ya? Canggih banget emang nyokap gw, bisa ngebesarin anak yang bisa jadi dirinya sendiri. Makanya gw terus pelihara mimpi kalo nanti tiba saatnya di mana gw dan dia merapat kekuatan buat ngejalanin perusahaan keluarga sendiri. All that we need is each other — all credits to dear God.

Nona

Nona

Tapi gw ga polos juga. Gw sadar betul kalo akan tiba juga masanya di mana kita harus part ways. At least, for a time, before reuniting for a common cause. Dan ini salah satunya yang paling deket adalah pernikahan.

My and my big-bro have been tight. All this time. We tell each other everything. What’s his is mine, what’s mine is his. One thing that I will remember throughout my life, yang nantinya akan gw ceritain juga ke anak-anak gw dan ponakan-ponakan gw, adalah betapa deketnya gw sama abang gw. That, I would definitely pass on to my kids. And yes, his children are my children too.

Segitunya gw deketnya kita.

Makanya agak bittersweet juga, ketika Tuhan akhirnya kirim dia pasangan, yang lagi tahap getting to know each other better. Dan Puji Tuhan, we love what we’re seeing so far. I can hear the bells.

Certainly, I’m happy for him. I really am. I just can’t help but feeling torn. Kehilangan juga, man.

Sampe tiba ke one fateful beer-guzzling time, ketika abang gw mention soal udah saatnya gw punya lawan diskusi cewek yang satu frekuensi. It’s really matters in coupling-up with a mate, anyway. Dan gw setuju.

Gw jarang bisa cerita banyak ke orang lain. Suka cerita, yes. Tapi jarang bisa awet lama-lama. Suka kasian ngeliat kuping dan mata lawan bicaranya mulai glazing after a while. Some people emang ga bisa handle long conversations. But that’s totally okay. I have flaws, too. No biggies. Gw juga bukan tipe orang yang mesti punya pacar supaya bahagia. I’m perfectly fine by myself, but that doesn’t mean I don’t need no partner.

Nah, ngeliat abang gw udah Tuhan kirim pasangan, dengan cara yang super heran, otomatis gw latah dong. Gw pengen juga. Kan Tuhan bilang, mintalah maka kita akan diberikan. Tinggal minta doang, we don’t even have to work for it. It’s a bonus, actually. SOP-nya gampang, ga ribet. Dan mintalah gw.

Dan Tuhan pertemukanlah gw dengan nona ini. Ketemunya juga lucu, apalagi setelah gw juxtapose kejadiannya versi gw dan versi dia. Emang Tuhan so atur semuanya. It is divine intervention. Agak terharu dan ngekek juga sih. Bener-bener ibarat divine comedy.

Someway, somehow, gw nyaman banget ngobrol sama doi. Ini, adalah luxury privilege buat gw, saking jarang banget bisa gw dapetin. Gw cuma rindu lingkungan yang di mana kita bisa jadi diri kita sendiri dan bebas berpendapat tanpa kado penghakiman dan benjol. Begitupun gw rindu Ring#1 gw seperti itu.

Dan ini gw dapetin di si nona satu ini. Dan Puji Tuhan, she revealed that she’s single too. She told me in a flash, and thank God, I have an attentive memory. Ahaha.

Emang Tuhan bener-bener tau apa yang anaknya butuhin. And I don’t remember ever worked for it. I just receive. God supplies.

Jarang-jarang ketemu cewek yang sadar betul betapa Tuhan sayang dia. Hati makin trenyuh rasanya pas denger cerita perjuangannya sendiri di negeri yang asing. Dia bersaksi akan penyertaan Tuhan. Masalah-masalahnya selesai satu-per-satu dengan sendirinya. Dan dia selalu inget itu untuk nguatin dia kala lagi ngalamin masalah yang faith-shaking. And I can resonate with her stories. I feel her, man. I felt that, in that instant, something is pulling me closer to her. Something… heavenly. And I can only wonder, could she be #1?

Ah, Tuhan akan ngasi tau gw dengan caranya sendiri. I let my heart decide. Gw selalu percaya kalo Tuhan ngomong ke kita lewat hati. Makanya sampe ada lagu ‘jagalah hati, jangan kau nodai’. Simple melody yet rings true. The message hits home. Ketika hati ga kejaga, dan jadi kotor, hidup bakalan jadi ribet, sederhananya.

The way I see it. Tuhan ngirim si nona buat ngisi space kosong yang ditinggalin abang gw. Isn’t God lovely? And I’m excited to see that the family is getting bigger. One bigger happy family. Anyone close to us gets that dose of joy and happiness as well, Puji Tuhan. Tapi ini semuanya, tentunya bukan karena kuat kita. Ini karena kita ibarat carang anggur sebuah pohon; pohon ini adalah Tuhan sendiri. Makanya ada retorika, bagaimana carang bisa hidup terpisah dari pohonnya? Dan Puji Tuhan, gw Tuhan temuin sama orang yang sama-sama carang anggur.

We speak the same language. We have unified view of the stuffs happening in life already. We are greatly blessed. Highly beloved. Such a sweet gift that comes in my way. How is God never not-sweet. How can I not be jolly?

Image credits:
‘woman silhouette on black’, by shmector.com

Advertisements

One thought on “Her Name Is…

  1. I love you Sayang, can’t believe you wrote this in 2014. It has been a great journey with you and I would not ask anybody else to walk beside me and to grow old with me but you 😊 God is definately working in our relationship.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s