Hidup Terus Bergulir

Can’t believe it. Uncle just died.

18lqdbxq1hz7bjpg

Tapi gw ga memilih untuk ga pengen terlarut secara emosional.

Gw ngeliat ini bukan momen untuk ditangiskan.

Ini buat gw perpisahan. Doi ibaratnya duluan pergi ke tempat yang nanti kita akan bisa ketemu semuanya lagi. Dan satu hal yang jelas, di sana ga ada penderitaan. Hanya ada damai sejahtera dan sukacita.

Ketika Tuhan panggil seseorang, Tuhan selalu langsung ngasi balik sesuatu.

Selain Tuhan yang akan nyediain segala sesuatunya, to the point of kita immediate family ga jadi repot untuk ngurus prosesi pemakamannya (that’s the faith talking), Tuhan pun kasi balik sesuatu yang kita — pembaharuan kerukunan.

Bayangin aja sodara-sodara yang deket dan ada yang udah ilang kasus — semua pada dateng. Yang udah akrab jadi tetep akrab. Yang udah lama ga ketemu jadi bakudapa. Yang mungkin pernah slack, jadi bisa sama-sama nyabut akar kepahitan. Jadinya, ditinggalin tapi ada yang nguatin. Puji Tuhan, kan?

Sedih ya wajar, namanya juga manusia. Tapi untuk apa kita tangisi, kalo kita tau dia udah di sisi-nya Tuhan? Bukankah semua rencana Tuhan itu terbaik?

Di satu sisi, gw justru seneng. At the thought of seeing the whole family get together. As in, in one place. Yang ada malah bakal begadang, saking saling tuker banyak cerita. Dan ini jadi possible karena pivot moment ini. Makin akrab ‘kan jadi makin kuat?

Dan kenapa gw pengen denger cerita-cerita dari yang lain, karena gw percaya semuanya dari kita ngalamin hal yang baik. As in, baik karena selalu disertai Tuhan. Luar biasa bahkan.

Gw lagi ngeliat berkat, ibaratnya water droplets from the sky, is about to be showered upon us. Dicurahkan, sampe basah kuyup — dari dari janggut ke jubahnya turun. Dan ini waktunya udah just aroung the corner, I can practically taste it.

Segitu baiknya Tuhan ke gw. Dari dulu, sampe seterusnya. Bejana pemerasan anggur kita dibuat melimpah. Puji Tuhan.

Jadi, kita harus liat segala sesuatu dari kacamata-nya Tuhan. Kalo kata bahasa orang dunia: liat positifnya aja. Tapi ini bener, karena semuanya dari Tuhan itu sifatnya positif — menurut kacamata-nya Tuhan, yang sekali lagi mahabaik. Trust the miracle-worker.

Untuk oom gw terkasih, tersayang, yang gw tau udah Tuhan dekap di surga sana: We love you. Always have, always will.

Kita semua punya lembaran hitam dalam hidup yang kita ga banggain. Tetapi Tuhan ga peduli itu. Kita ga peduli itu. Tuhan cuma peduli supaya kita percaya. Begitu kita percaya, kita yang ibaratnya udah ‘merah’ banget, semerah kirmizi, bisa Tuhan cuci lagi jadi seputih salju.

Dan Adek percaya, kalo Oom pun percaya, kalo Tuhan itulah Juru Selamat pribadi.

God bless you, Oom. Of course, you will be greatly missed. We’ll see each other again, in due time.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s