Pulihkan Kembali Negeri Kami

jokowi-vs-prabowo

[1012 words] Ada yang spesial dengan pemilu kita kali ini. Ga pernah gw rasa antusiasme dan hype-nya segede sekarang. Harapan yang digantungin masyarakat ke presiden mendatang gede: untuk ngolah potensi sumber daya negara yang selama ini ga terkelola dengan baik. Yang selama ini juga, lebih nguntungin pihak asing daripada rakyat sendiri.

Something’s gotta change. Tapi yang bikin serunya lagi adalah, kedua calonnya sama-sama bagus, dengan cara dan prestasi mereka masing-masing. Ini ngebuat rakyat sulit ngebuat pilihan. Gw pun sampe detik-detik terakhir masih bimbang sama pilihan gw sendiri.

A Nation Divided.

Tapi ya, namanya juga running for election. In many ways, it resembles a race, who can only have one winner. Dan syarat untuk menang adalah, dengan memperoleh suara terbanyak dari seantero Merauke sampe Sabang. Jadinya masyarakat ibarat disodorin dua produk, yang mereka harus pilih satu.

jokowi-dan-prabowo-subiantoPsikologis orang dalam memilih itu lumayan dipengaruhin oleh familiaritas mereka terhadap yang mereka pilih. Calon, ato produk yang berwatak tegas, hobi eksklusif berkuda, latar belakang militer yang disiplinnya tinggi, akan so pasti punya simpatisan dengan watak, hobi, dan latar belakang yang sama.

Begitu juga dengan calon yang latar belakangnya sederhana, tapi dengan rekor kerja gubernatorial yang impresif yang terbukti pro-rakyat (kejadian yang sangat langka, mengingat rahasia umum bahwa pejabat negara kita lama terkenal maruk) — diapun, akan didukung oleh rakyat stratum tengah-bawah, yang makes up the majority of our population.

Seperti yang kita liat, pilihannya sulit. Gw setuju kalo partner presiden-dan-wakil impian itu justru adalah kedua calon yang lagi bersaing ini, dalem tim yang sama. Tapi sayangnya takdir berkata lain. Simpatisan kedua belah pihak calon sekarang justru ibarat saling on-each-other’s-throat. Isn’t it ironic?

Dan ceritanya mereka bisa sampe saling nyerang, ya adalah yang kita kenal sebagai black campaign. Tujuannya, ngejelek-jelekin lawannya untuk ngebikin pihaknya keliatan lebih baik, yang paling efektif bekerja lewat platform televisi sama sosial media.

14017694361122509392Dan tampaknya cara menyedihkan ini berhasil, karena masyarakat kita jadi banyak yang kepengaruh, jadi ikut kesulut. All of a sudden, “Perbedaan Itu Indah”, “Bhinneka Tunggal Ika” are nothing more than empty words. Inikah tanda kalo masyarakat kita ternyata ga sepinter yang mereka pikir? Ngakunya pinter, tapi masih gampang kepengaruh pendapatnya. Gimana mau objektif?

Ga bisa disangkal kalo black campaign menanamkan benih ketidakpercayaan dalam masyarakat. Rame bahkan yang saling beroposisi sampe gontok-gontokan dan marah. Termasuk pakde dan bude gw sendiri — “rumah” mereka terbagi antara dua pilihan. Tapi ini dalam skala yang lebih gede juga ngegambarin keadaan bangsa kita yang lagi terbagi dua.

Makanya akhirnya pengamanan pemilu jadi Siaga Satu, gara-gara political unrest yang dimulai oleh black campaign tadi. Segitu parah potensi-ngerusaknya.

A Nation Unified.

Let’s be honest. Ga ada satupun manusia yang sempurna. Cuma Tuhan doang yang sempurna. Artinya, meski latar belakang dan prestasi kerennya segaban-gaban, orang tetep akan punya kekurangan. Dan sedihnya,  pas banget, manusia itu justru paling gampang ngeliat kekurangan dari segala sesuatu, termasuk dan apalagi calon oposisinya. Ya ga ada abisnya dong kalo ngeliat kekurangannya terus? Why can’t we try to focus on the positive side of things?

Bukankah pilihan itu kan hak asasi? Menyatakan pilihan itu boleh. Memaksakan pilihan itu yang ga boleh. Hargai intelektualitas orang lain lah. Jangan malah ngebuat orang lain ngerasa aneh hanya karena pilihan dia berbeda dengan kita. Emangnya dia kita yang kasi makan?

mCjxsv43I3Kita mesti inget lagi apa sih esensi dari tujuan pemilu ini: untuk milih pemimpin yang bisa memulihkan kembali negeri ini. “Pulih kembali” itu konotasinya pernah “sehat” (inget pemerintahannya Sriwijaya ato Majapahit?), terus “sakit” (korupsi di berbagai lapis pemerintahan), dan makanya dari itu juga, butuh dipulihkan kembali ke keadaan aslinya. Dan kita semua tau keadaan asli bangsa kita: punya potensi sumber daya dan budaya yang beragam dan kaya. Sangat-sangat bisa untuk jadi “Macan”.

Harapan supaya negara ini pulih kembali adalah harapan yang besar. Dan yang namanya harapan itu, mau kecil ato gede, ga boleh digantungin ke bahu seorang manusia biasa, yang fana. Bukankah presiden itu juga cuma manusia? Tapi, kita gantungkanlah harapan kita yang gedetadi itu ke Tuhan.

Tuhan itu yang pegang takdir siapa yang nanti jadi presiden kita mendatang — bukan black campaign, jadi jangan kuatir. Tuhan bisa juga jadiin presiden yang terpilih tergulingkan setelah sekian waktu, dan sisa masa jabatannya justru diterusin oleh calon lawannya. Pelajarannya di sini adalah: semuanya bener-bener suka-sukanya Tuhan.

Itulah kenapa orang ga boleh “ngoyo” terhadap pilihannya, sampe sotoy beropini kemungkinan ini-itu, seakan-akan de’e sing duwe urip. Malu juga nanti kan, kalo udah ngoyo trus calonnya ga menang. Mau ditaro mana mukanya abis itu, meja satpam?

cerita-adu-ngaji-amien-rais-tak-mau-prabowo-vs-jokowi-duluanPluralisme adalah yang ngebikin negara kita jadi keren. Tapi di saat yang sama, pluralisme itu juga bukan sesuatu yang mudah untuk dipertahankan — tantangannya banyak. Tapi yang jelas, yang bisa banget nyatuin keterbeda-bedaan tadi cumalah satu: Tuhan. Artinya? Meski beda-beda, tapi kita tetep satu, dalam pengharapannya kepada Tuhan dan hanya Tuhan. Baru setelah itu pemulihan akan dimulai bagi bangsa ini.

A Nation Healed.

Tuhan itu ga tuli. Tuhan ga pernah tertidur. Dia denger setiap doa kita orang percaya, untuk memulihkan kembali bangsa ini. Supaya juga dipulihkan lagi spiritualitasnya, supaya orang-orangnya malah ga “terjun bebas” jadi “hamba uang”, yang hanya ngelayanin perutnya sendiri, tapi “hamba kebenaran”, yang sadar untuk jadi pelayan bagi sesamanya.

Tuhan pun bisa pake siapa aja buat mimpin pemulihan bangsa ini. Bener-bener siapapun — mantan pembunuh aja bisa Tuhan ubah jadi penyiar kabar baik. Masak kita terus sotoy berpendapat mana yang bisa dan mana yang ga bisa ngelakuin ini-itu? Ato cuma gara-gara seorang calon dianggep “boneka”, ato dituduh terlibat kasus peringkusan dan penembakan yang makan korban jiwa?

Kalo emang udah Tuhan takdirkan jadi pemimpin, maka dia akan kepilih jadi pemimpin. Dan meski hikmat kita ga yakin dia mampun, Tuhan pun yang akan “mampukan” dia — itulah kenapa kita berdoa Tuhan kirimkan yang terbaik untuk mimpin bangsa ini. Jangan percaya sama apa yang seorang calon mampu lakukan, tapi percayalah sama apa yang Tuhan mampu bikin calon itu lakukan — which is pretty much everything, since God makes all things possible. Jadi harusnya ga ada alesan juga untuk golput.

Kita semua rindu bangsa ini pulih dan jadi “Macan”, siapapun presidennya nanti, yang urusan dalem negerinya bisa rapi, dan luar negerinya juga tangguh. Tuhan udah begitu baik dengan bangsa ini dengan karunia berupa sekian banyak potensi alam, budaya dan human resource-nya yang pinter-pinter, lebih dari negara-negara tetangga kita. Masak iya Tuhan ga akan kasi kita sekalian pemimpin yang terbaik untuk ngelola semua berkat bangsa tadi, menuju masa depan bangsa yang rukun?

622px-Prabowo_dan_Jokowi_versi_JKT48

 

Image credits:

1. Ketegangan antara Prabowo & Jokowi, via Bacaberita.com

2. Jokowi & Prabowo raise their hands, via TribunNews

3. Side-by-side, young Jokowi / Prabowo, by Samandayu via Kompasiana

4. Prabowo pats Jokowi in the back, ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf, via MetroTVNews

5. Prabowo/Jokowi delivering their speech, by merdeka.com

6. Prabowo/Jokowi versus JKT48, by Wardi Amrullah via wikia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s