Keluarga Nomor Satu, Setelah Tuhan

Family-CutoutI’ve been having this on my mind for quite some time.

Setiap kali gw pulang dari lapangan, rekan kerja selalu ngajakin untuk tinggal lebih lama dulu di Bali, sebelom pulang. Waktu itu gw kerja di kilang gas di pulau Pagerungan Besar, sekitar 1-jam perjalanan naik chopper ke utara Bali. Jadi gw selalu transit dulu di Denpasar, buat tek-tok ke Jakarta. Tapi somehow selalu gw tolakin, at the risk of being labeled ‘ga asik’

Frankly, it’s just that the very thought of seeing my family again never fails to light me up. Every. Single. Time. That’s how much they mean to me. Segitu rindunya gw akan bokap-nyokap, kakak-kakak gw dan ponakan gw, yang super lucu dan makin pinter (udah bisa gw ajarin kegilaan gw sedikit demi sedikit). Ditambah lagi gw pulang ke tempat di mana gw bisa jadi diri gw yang segila mungkin, tanpa penghakiman dari yang lain dan keharusan untuk jaga wibawa. Plus, ada faktor sayang duit juga sih. Sepeser-sepeser lumayan juga kalo ditabung.

Keluarga adalah sekelompok significant others di dunia ini yang udah Tuhan kasi ke kita. (We can’t choose the family to be born into). Makanya ada yang namanya familial bond, ato ikatan-karena-keluarga. Ini yang ngebikin keluarga beda dari lainnya yang bukan keluarga.

Itulah kenapa, keluargalah yang paling berhak dapet porsi waktu dan perhatian terbanyak dari kita. Karena mereka itu top priority — di atas temen, di atas karir, di atas bisnis, over everything else for that matter. Emang Tuhan udah ciptain sistemnya begitu, makanya setiap orang, harusnya ikutan punya tanggung jawab ngejagain keluarga masing-masing. Dari apa? Dari hilangnya kerukunan, oleh karena serangan alien.

Hilangnya Kerukunan.

Hilang, berarti tadinya ada, lalu somehow jadi ga ada. Dan alasan kenapa kerukunan mesti dijaga supaya jangan sampe “ilang”, adalah karena kerukunan itu syarat dari Tuhan supaya sebuah keluarga mengalami “pencurahan berkat”. Tercurah itu ibarat dicipratin, oleh berkat yang analoginya air, sampe jadi kuyup. Dan kalo bisa nyiprat dan bisa kuyup, berarti dia bisa juga “kering” ato cuma “netes” (kayak atep teras rumah gw yang lagi bocor, maklum bangunan tua).

unity

Jadi kalo di-refrase-kan, berkat akan tercurah (alias ngalir, lancar, tidak mampet), hanya ketika keluarga sedang rukun. Tapi gimana kita tau kalo keluarga itu terbilang rukun?

Rukun itu, bisa diartiin “tidak terpecah”. Keluarga yang rukun adalah yang tidak terpecah, oleh masalah. Indikasi dari adanya kerukunan, adalah adanya sukacita. Tapi ada yang mampu memecah keluarga, dan ngebuat kerukunan itu hilang: masalah. Indikasi dari tiadanya kerukunan adalah tiadanya sukacita.

Lagi-lagi Masalah.

Yang kita tau tentang masalah adalah: Satu, bentuknya banyak. Dia dialami tiap orang beda-beda. Dan mereka selalu ada/terjadi sepanjang orang hidup, datengnya silih berganti. Hanya orang mati aja yang ga punya masalah.

Kita jangan ngeliat masalah sebagai sesuatu yang disegani. Masalah itu, kadang yang satu lebih berat dari yang lain, ga pernah Tuhan biarkan terjadi lebih besar dari kemampuan kita. Inilah kenapa badai pasti berlalu.  Dan karena Tuhan yang ijinkan terjadi jugalah (karena ga ada yang namanya “kebetulan”), artinya akan selalu ada pelajaran yang “manis” buat kita di balik setiap badai dan ombak besar dalam bahtera keluarga.

Satu alasan kenapa masalah harus terjadi dalam hidup kita, adalah karena hanya dalam kelemahan kitalah kuasa Tuhan dinyatakan. Bagaimana tabib menyembuhkan apa yang memang tidak sakit? Itu artinya, Tuhan PASTI tolong kita, dan jalan keluarnya pun pasti disediain. Tapi ini hanya kalo kita ikutin caranya Tuhan. Dan emang, menurut pengalaman pribadi juga, caranya ga bisa dicerna logika manusiawi terbatas kita, makanya seringkali rasanya “counter-intuitive”.

Masak kalo ditampar pipi kiri kita malah ngasi pipi yang kanan juga (turn the other cheek)? Kitanya sebenernya ga ngerti aja, kalo it’s all about making a point. And that point is, supaya yang mukul jadi ngeliat kemuliaan Tuhan yang mancar dari kita lewat perilaku tadi, ngajarin contoh excellent tentang pengampunan dan ketenangan ilahi (inget orangtuanya Ade Sara?).

Murah Pengampunan.

Masalah yang terjadi, apalagi internal keluarga, antara yang satu dengan yang lain, meninggalkan scars, alias luka. Luka ini, ga akan bisa sembuh tanpa melepas pengampunan. Disinilah yang banyak orang suka gagal.

mercy

Just so we’re clear, kepahitan yang muncul akibat kesalahan yang belum terampuni ini, bisa manifes jadi penyakit. It happened to my dear uncle. Gara-gara kepahitan yang ga kelar udah bertaun-taun, diabetes-nya jadi lepas kendali sampe dia kehilangan kemampuan untuk berjalan dan penglihatannya keganggu. Lumayan banyak juga orang lain yang sampe almarhum gara-gara itu.

Jadi, karena banyak masalah akan terjadi (be not afraid), akan harus sering juga ngelepas pengampunan. Emang awalnya berat (tell me about it). Ngelawan sakit hati dan gengsi emang susah, tapi itu jalan supaya orang jadi dewasa. It gets easier over time kok, dan kita jadi lebih baik karena itu. Maafkan, lalu lupakanlah.

Lagipula, Tuhan kan mengampuni kita seperti kita mengampuni yang salah ke kita. Abis dimaafin, lupain. Jangan pernah disimpen. Pengampunan megang peranan penting dalam mematahkan kuasa masalah untuk memecah-belah keluarga.

Saling Menguatkan Lewat Komunikasi.

Itu kalo masalah internal. Ada juga masalah eksternal kayak urusan bisnis yang jadi kusut, misal perkara invoice yang numpuk sampe gede banget gara-gara kurang pengalaman yang nelurin utang bisnis senilai ribuan dollar. Bisa berupa tekanan dari dunia di luar keluarga, misal dari lingkunga kerja atau institusi pendidikan. Those are the kind of things that we can’t control from happening. Itulah kenapa kita berdoa dan mohon penyertaan. Karena Tuhan tau apa yang terjadi, dan hanya dengan penyertaannya-lah kita akan “selamat” tiba di “tujuan”.

Kalo dipikir-pikir, disuruh bersukacita dan bersyukur pas lagi kena masalah, emang rasanya counter-productive. Tapi ada banyak hal yang hikmat manusiawi kita ga bisa pahamin kenapa beberapa hal seperti ini, itu (at least for now). Dan Tuhan selalu bilang untuk jangan kuatir akan apapun juga. So there are absolutely no reason as to why we can’t just choose to be happy, or, to be “full” of “joy”, despite the multitude of problems? Is He not the Almighty, All-Knowing and Kind?

Tapi itu baru teori. Kenyataannya, banyak orang yang dalam masalahnya lupa akan asuransi ilahi ini. Inilah satu alasan lagi, kenapa masalah itu jangan dipikul sendiri. Dikomunikasikanlah. Ato dibantu dikorek isi kepalanya dengan approach yang gentle (lemah lembut), bukan pake “gada keras” — ini ampuh buat mereka yang ga terbiasa mengekspresikan dirinya secara sehat. Ini semua tujuannya supaya yang lain bisa ikut “nguatin”, dengan cara “ngingetin” signifikansinya Tuhan dalam hidup kita, sekaligus supremasinya di atas masalah-masalah kita. Kita perlu ngingetin satu sama lain untuk terus yakin.

en07apr41a_smith

Ketika kita bisa terus yakin, kita akan tuai pada waktunya janji-janji Tuhan yang selalu digenapin. Salah satu janjinya adalah hujan berkat tadi, yang syaratnya adalah rukunnya keluarga. Berkat ini bentuknya berupa kasih, sukacita dan damai sejahtera — itulah yang ngebikin mereka bagai terang (yang “menerangi” sekitarnya) dan garam (garam ngebuat rasa sesuatu jadi “tak pernah sama”) dunia. Mereka semua “ga kasat mata”. Dan “berkat” mereka Tuhan “alirkan” “tak terputus” ke mereka.

Epilogue.

Gw sempet heran dulu kenapa ibu-ibu, termasuk nyak gw, segitu doyannya ngikutin drama Korea. Ternyata karena temanya tentang keutuhan keluarga — mereka jadi belajar sesuatu dari situ. Begitupun tayangan sitkom tentang keluarga disfungsional favorit kita di tivi kabel. Whacked as they are, yet they still remain together as one.

Tuhan pengen yang terbaik buat kita. Tapi di sisi lain, ada alien jahat yang pengen sebaliknya buat kita — supaya kita ga sampe nerima yang terbaik dari Tuhan buat kita. Dan si alien jahat ini ngegangguin kita lewat masalah-masalah yang lagi kita hadepin. Dia nyesatin orang — ngebikin orang jadi ga ngandelin Tuhan lagi, ngebikin Tuhan jadi ga nomer satu lagi dalam hidup. Alien Jahat inilah yang seneng ketika kerukunan keluarga kita menghilang — pas keluarga lagi saling tuding, perang dingin, ato lempar-lemparan perkakas masak.

Seberat apapun kondisinya, jangan pernah “ngelangkah pergi” dari keluarga, meski emang keadaannya lagi dingin dan runyam. Sampaikan semuanya dalam doa, ibarat korespondensi langsung dengan Tuhan dalam format “curhat”. Inget kalo Tuhan mampu pulihkan semuanya, fungsikan kembali yang disfungsional.

Thereby, I believe that God should come first. Karena Tuhan yang miliki dan ciptakan sistemnya (apa sih yang ga Tuhan miliki dan ciptakan?). Dan bukankah kita semua rindu seisi keluarga kita Tuhan selamatkan? Family, secondly, for how can we let anything wipe the smile off the faces of our beloved ones? Then career — or anything else, so to speak — may be third. Karena apapun yang dikerjain di luar sana akan terasa lebih nyaman ketika keluarga itu lagi sukacita dan rukun, plus ketika kita tau Tuhan akan selalu sertai dan bikin semua yang kita kerjakan berhasil. Amin.

Image credits:

1. “Family cutout held in a pair of hands”, by David Cook via Cook&Gore.

2. “Unity”, by Darlene via Newlife.

3. “Have mercy” print, by Anjelika Temple, via Brit.co

4. “A Family Home in the Evening”, painting by Bruce Clovis Smith, via lds.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s