Jangan Simpan Masalah Sendirian

9f44e956e3a2b7b5598c625fcc802c36-38-the-most-common-argumentative-fallacies-we-abuse

Gw tiba-tiba inget akan satu pesan emas dari mak gw: seseorang akan keliatan aslinya ketika berhadapan dengan masalah. Ada yang berani, beberapanya lagi suka kabur-kaburan. Tapi ada juga kalanya masalah yang lagi dihadapin itu bagai badai — alias gede banget.

Dan yang namanya masalah, mau segede apapun, itu bakal lebih ringan kalo ditanggung bareng-bareng. That is, di-share dengan confidant terpercayanya (both mean the same thing anyway). Tapi yang anehnya adalah, ada aja orang-orang yang kekeuh banget ga mau nge-share innermost feelings-nya ke yang lain. Sebenernya sih, ini gapapa aja kalo ga nyeret yang lain ikut masuk pusaran masalah. Tapi kalo udah nyangkut stabilitas hidup lingkaran-satu-nya dia, it’s no longer pretty. Bokap gw sendiri salah satunya.

Entah karena beliau pikir kalo sosok kepala keluarga yang ‘kuat’ adalah yang ga berbagi struggles, worries and fears-nya. Boro-boro keluarganya sendiri, ke orang lain apalagi. And it’s devastating to watch, let me tell you that. Beliau jadi, well, agak ‘cungkring’. Jadi anything that’s been bothering his mind ‘ngegerogotin’ akhirnya beliau dari dalem. Tapi Puji Tuhan, sekarang udah naik sekilo. Haha. Slow progress is progress indeed. Efek samping lain dari nyimpen masalah sendirian, selain bodi jadi kurus, ada juga yang transform jadi tukang gerutu.

Semuanya serba di-complain, keras kepala, dan overly-critical terhadap pendapat orang lain, seakan-akan dia yang paling ngerti semuanya (padahal ga), dan sangat-sangat argumentatif, bahkan ke hal-hal yang sangat sepele. Perilaku ini semua, ya juga gara-gara ada yang ngeganggu pikirannya.

Bedanya sama orang-orang yang badannya jadi kurus, yang efeknya mereka ‘internalize’; mereka justru nge-‘externalize’ gangguan pikirannya,  di-vent out ke orang sekitarnya. Inilah, sayangnya, yang akhirnya bikin semua orang sakit telinga deket-deket dia. But at least they get to keep their appetite, makanya mereka physically-unapparent. Tapi tetep aja, dua-duanya ga ada yang lebih baik dari satu sama lain.

Mungkin masih banyak juga contoh yang lain, yang sampe sakit mental, manifes jadi sakit fisik dan sampe ‘die’; but we can all agree that, sebaiknya masalah ga disimpen sendirian. Bikin lebih enteng kok. Dan biar ga sotoy juga. Tapi ga diumbar jadi konsumsi publik di social media juga, apalagi soal galau ato marah, dengan kata-kata yang rada kampung. No one cares, really, and what is private should remain private. Instead, seek to dissolve it secara sehat, dengan di-share dan cari jalan keluarnya dengan orang terpercaya.

Make sure, kalo orang yang kita confide struggles dan masalah kita itu adalah orang yang tepat. That is, mereka yang positif pemikirannya.

It pays to be surrounded by positive people. One of the perks are, they never fail to cheer us up when we are let down. Mereka saling nguatin satu sama lain. Beda sama orang-orang pesimis, yang, well, we know lah how uncomfortable they can be. These people suck the joy out of others, hands down.

Ideally, orang-orang yang tepat ini adalah keluarga sendiri. Who else could better suit the task? Emang bener itu kalo ‘blood is thicker than water’. However, it may not always be so — buat mereka yang keluarganya yang hubungannya lagi ‘dingin’. But it can be anyone really, yang kita percayai judgment-nya akan wise and sagely. Dan karena ‘thicker than water’ tadilah, something must be done to address the ‘cold’, because family isn’t supposed to be cold. Fridge is.

I can’t help but wonder apa yang menyebabkan orang jadi nge-keep masalahnya sendiri. Apa gara-gara persepsi yang salah akan gimana ‘kuat’ itu seharusnya? Takut dicemooh? Ato pola didik masa kecil yang salah, yang ngajarin kalo cowok, apalagi, ga boleh ‘nunjukin’ perasaannya karena itu dipandang ‘lemah’? Ato karena ga pernah diajarin untuk express him/herself in a healthy way waktu kecil?

Image credits: Argumentative, via Bidnessetc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s