Berani

It’s not easy jadi orang Indonesia. Apalagi yang latar belakang etnisnya Jawa, dan besarnya di lingkungan Jawa pula. Karena somehow, didukung dengan upbringing gw dari kecil plus lima taun pas lagi kuliah di Jogja, gw bisa amatin begitu banyak orang kita yang cenderung sungkanan, ato serba ga enakan. Agak cemen sih, sebenernya menurut gw. Dan ini harusnya ga begitu.

Emang pada satu sisi, budaya yang kental di Jawa ini nge-value tinggi kesopanan. Tapi ini berbalik jadi senjata makan tuan, ketika batasan dari apa yang sopan dan ga sopan itu jadi burem dan sulit dibedain — the fine line got blurred.

Ketidaktahuan batasan inilah yang ngebikin orang jadi takut. Takut disalahpersepsikan kata-kata dan perilakunya sebagai ga sopan oleh orang lain, apalagi ke mereka yang lebih tua. Ciri-cirinya kalo udah gini adalah, ya tadi, orang jadi apa-apa serba sungkan, ga pede. Akhirnya lumpuh, serba takut mau ngapa-ngapain.

speak_your_mind-423199Left Unsaid. [1]

Contoh nyata dan yang paling umum adalah ketika hendak nyampein ‘kebenaran’ yang muncul di dalem kepala, dan kadung di ujung lidah. Misal gara-gara ada sesuatu yang bikin jengkel dan sebaiknya jangan terulang, tapi si pihak yang dibikin jengkel sayangnya enggan untuk nyampein itu. Gara-gara takut dianggep ga sopan, takut ada perasaan yang tersakiti.

Ya, bener, mereka takut. Kita, bahkan gw sendiripun, masih suka takut. Makanya kita butuh untuk berani. Berani untuk tidak setuju. Berani untuk berbeda pendapat. Berani untuk mengungkapkan rasa ga nyaman (ga suka). Berani untuk negur.

Tapi semuanya itu akan ga ada artinya kalo ga kita verbalisir. Tapi boro-boro diverbalisir, ngomong aja takut? Padahal semuanya sama-sama makan nasi, and people don’t bite either. Paling ngunyah.

“He can tell me what to do, but he can’t tell me
what to feel.” -Fountains of Wayne, Hey Julie

Kita semua manusia diciptakan punya perasaan. Dan yang namanya perasaan itu ga bisa dipaksa, dan harus dihormatin. Bukan malah dibo’ongin seperti tatkala kita lie about our feelings, yang tanpa sadar kita lakukan, ketika kita memilih untuk terdiam tak bersuara, seakan-akan kayak lagi terima nasib. Cara supaya perasaan ini bisa dihormati dan dihargai, ya adalah, sederhananya, dengan speaking about it. Misalnya:

  • “Lo terlalu muter-muter ceritanya. Gerah juga kuping lama-lama. We haven’t got all day to listen to your rants, dan beberapa orang itu cukup pinter untuk ngerti gambaran persoalan lengkapnya hanya dengan sedikit diceritain.”
  • “Lo ga pikir, ketika lo tereak-tereak di depan pager rumah gw jam 3 pagi itu ada bokap-nyokap dan ponakan gw yang masih kecil yang lagi tidur? Well, of course I’m upset!”
  • “Lo asal banget nge-judge orang. Padahal lo dua-mata buat up-close and personal sama dia aja ga pernah.”
  • “Gw jujur lagi terlalu cape dan pengen istirahat malem ini untuk denger cerita lengkap lo. Bisa lo ke rumah gw besok aja, agak sorean? Mungkin lo bisa bawa bir juga sekalian biar ceritanya bisa lebih ngalir”.
  • “Gw ngerasa lo terlalu concern dengan hal-hal yang sepele, yang harusnya lo biarin ‘let go’ aja. Kalo lo sampe marah gara-gara perkara begituan, berarti lo sama ‘jongkok’-nya dengan yang udah nge-provokasi lo.”
  • “Lo pulang malem, padahal lo seharian kerja belom ketemu anak lo, dan orangtua lo sendiri yang udah CAPEK seharian ngejagain anak lo sedang ga enak badan, untuk pergi kumpul dengan temen-temen lo yang meski udah bertaun-taun ga ketemu. How can you be so inconsiderate? Apa segitunya lo nge-place value di temen-temen lo, di atas keluarga lo sendiri yang udah terbukti selama ini ‘have the best of your intentions’?”
  • “Lo terlalu ribet mikirin semuanya. Pusing gw dengerin lo. Berstrategi macem orang dunia dengan segala logikanya yang terbatas. Akhirnya lo jadi uring-uringan dan restless, tanpa sadar sukacita lo direnggut ilang begitu aja. Lupa kalo Tuhan udah dan will take care of everything, termasuk setiap kata-kata yang akan kita ucapkan, ketika kita berhadapan dengan siapapun itu yang kita pikir menentukan masa depan kita nanti?”

144467_origSpeak your mind. [2]

Masi banyak lagi contoh yang gw bisa come up with (maybe I should try screenwriting, writing scenarios instead). Emang, admittedly, akan ada orang yang jadi panas hati disiram ‘kebenaran’ ini. Tapi begitu juga halnya dengan nelen pil pait — rasanya ga enak, tapi tetep si pasien butuh, supaya bisa ‘lebih baik’. So give him/her time to process. Jangan terus-terusan kita taro dia di ‘kursi panas’. Bisa meledak ntar dia kayak Bomberman di game PS1.

Kalo seandainya mereka yang ketika dikasitau jadi marah? Well, itu biasa. Tapi kalo marahnya norak, sampe retaliate (ngebales) balik dengan cara ato kata-kata yang kamsupay, itu hanya nunjukin kalo orang itu ga ngehargain perasaan kita, yang telah kita sampaikan earlier.

Emangnya nyampein perasaan itu gampang dan ga butuh keberanian? Orang yang ga ngehargain dan ga ngehormatin perasaan kita adalah orang yang ga deserve respect dari kita. Think about it. Respect is earned. Sekali itu ilang, akan sulit untuk dibangun lagi. Why waste our time with people who doesn’t deserve our respect anyway? With this in mind, take into consideration as well, kalo ada juga beberapa orang yang dikasitaunya mesti ‘berkali-kali’. Kalo emang gini kasusnya, anggep aja lagi ujian biar sabar. Kayak lagi ngedidik anak sendiri.

“Say what you want to say, and let the words fall out.
Honestly, I want to see you be brave.”

-Sara Bareilles, Brave

Apakah overall gw bilang kalo budaya Jawa itu jelek? Tentu tidak. Budaya Jawa justru bersinar, apalagi disandingkan dengan budaya Barat, oleh kesopanan itu sendiri. To this day, orang Barat masih geleng-geleng kepala kagum dengan budaya kita yang masih relatif lebih erat kekeluargaannya, jauh berbeda dengan mereka yang rata-rata ‘hajar bleh’ relatif lebih cuek.

Di sinilah harusnya terjadi “The Marriage of East and West”. Kita bisa inkorporasikan aspek budaya Barat yang dikenal berani ke diri kita. Dan berani itu bukan berarti lancang, atau nekat. Orang yang berani itu sadar ‘garis batas sopan’-nya di mana, dan ga ragu bersuara untuk nge-defend perasaannya sendiri dan apa yang dia yakini benar. With that said, it is only fitting, kalo kita juga at the same time, berani untuk salah, dan belajar dari situ. Ga banyak orang yang cukup berani untuk mengaku salah, atau kalah.

Image credits:

1. Left Unsaid, by Mandy Black via weheartit.

2. Speak Your Mind, by R. Shannon via her blog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s