Keluh Kesah Akar Rumput

Puji Tuhan. Gw ngerasa beruntung bisa deket sama orang-orang lokal di tempat gw kerja. Penduduknya terdiri dari suku Sulawesi Bajo dan Mandar. Saking deketnya, sampe gw bisa lumayan ngerti bahasa mereka juga. Dan dari situlah mereka mulai satu-per-satu cerita keluh kesah pribadinya masing-masing ke gw, yang sebenernya bikin gw ngerasa makin humble karena tau ada yang lebih kurang beruntung (bahkan masi banyak) dibanding gw.

Jadi setelah ngelarin satu kerjaan, tiba-tiba ada dari mereka buka suara kalo standar kerja mereka itu dulunya lebih tinggi dibanding sekarang. Emang jujur, yang mereka kerjain itu tampak terlalu sederhana. Tapi ternyata ini adalah hal yang mereka sadarin penuh. Dan setelah gw rangkai cerita lengkapnya, ternyata terungkaplah dari dia dan yang lain, kalo ternyata mereka frustasi dan kecewa aspirasinya ga berhasil keangkat dan diperjuangkan oleh lead mereka.

capitalism-2Non-working class stand in the middle. Unhappiness and misery shot through the stare of the working man on the left. [1]

Intinya adalah tentang kenaikan upah yang signifikan, yang mereka rasa berhak dapatkan karena umur masa abdi hingga 20 tahun, belom lagi beban kerjanya yang relatif lebih berat ketimbang tim departemen lain, tapi justru malah dapetnya relatif lebih kecil. Padahal dulunya mereka pernah ngerasain kondisi kerja yang enak di mana kontribusi ke perusahaan masih dihargai tinggi, yang ketika itu pemiliknya adalah asing.

Gara-gara ketidakadilan itulah, mereka jadi turun performa kerjanya — ga sesemangat dulu. Bahkan ada juga yang terlalu santai sampe nge-delay selesainya kerjaan yang mestinya bisa dikelarin cepet, karena ngerasa sia-sia bekerja keras juga, toh hasilnya yang dia dapet sama aja. Kan rugi lama-lama si perusahaan kalo semua karyawannya berpikir kayak gini, apalagi yang rate produksinya lagi tinggi?

Setelah gw telusurin lagi, sebelom kita putuskan siapa yang bertanggung jawab, adalah ternyata ya karena mereka itu ya outsourcing; urusan upah dibayar oleh si perusahaan kontraktor pemenang tender tenaga kerja untuk klien. Sebenernya si lead pun juga udah mencoba nyampein aspirasi mereka ini, tapi somehow malah dibecandain ‘sok-sokan’ jadi Mentri Sosial, akhirnya jadi kecele, terus kapok. Jadi aspirasi dari bawah itu terpantulkan. Jalur komunikasinya bermasalah, bahkan hingga sekarang kedua belah pihak belom pernah dipertemukan. Jadi kejelasan itu — jalur komunikasi yang lancar —  ga pernah tercapai. Akhirnya, general mood yang tercipta ketika bekerja adalah kecewa, dan agak frustasi, mengingat kebutuhan sehari-hari yang harganya bisa mencekik mereka kapan saja.

I felt powerless waktu dengerin. I can simpathyze with them, tapi gw juga berusaha untuk ga terbawa haru birunya. Tapi setidaknya gw bisa bantu cheer them up, dan berdoa bahwa somehow Tuhan akan terangin kepada mereka, kalo mereka ga akan perlu kuatir lagi atas apapun dalam hidup. Tapi emang, the takeaway adalah, rasanya seakan-akan Tuhan lagi ngeliatin ke gw proses terlahirnya seorang pemimpin yang baik, yang siap sudi nyediain kuping buat ngedengerin keluh kesah anggotanya.

Pyramid-of-Capitalism-e1331670725967Pyramid of Capitalist System. [2]

Emang gw belom pernah nge-run suatu perusahaan sendirian, tapi gw percaya kalo semua akan lebih indah pada akhirnya kalo hasil yang diperoleh bisa dinikmati ke seluruh tim perusahaan, sampe ujung tombaknya. Karena dengan begitu mereka akan loyal, karena perusahaan loyal kepada mereka. Jadi tercipta mutual loyalism. Bukan macem perusahaan yang dijadiin batu loncatan oleh yang keterima ngelamar ke situ; ini mah tinggal nunggu roboh, kayak piramida kartu.

Kalo kebutuhan keluarga karyawan terpenuhi, otomatis mereka akan menghasilkan kerja yang lebih baik. Dan itulah yang namanya jadi saluran berkat, ketika dari kita tercipta lapangan pekerjaan yang mampu menghidupi orang banyak, ibarat pohon besar yang dijadikan tempat berteduh oleh penghuni hutan. Is there anything else more wonderful? Lagian apa artinya juga duit segudang untuk beli barang-barang yang secara esensi ga kita butuhin, ketimbang jadi saluran berkat dan pengaruh baik bagi orang banyak?

Dan itu hanya akan terjadi kalo company runners-nya ga money-oriented — yang all about making profits — dan terciptanya jalur komunikasi yang clear and unobstructed antara perusahaan dan karyawan, untuk ngejaga susana kerja yang eksepsional, yang pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan dan semua yang terlibat di dalamnya. Because it isn’t always about making more money, but the lives of others more enjoyable as well. Now that, ladies and gentlemen, is what we call true joy.

Image credits:

1. ‘Changing American Life’, by Laborlit2010 via sites.google.

2. ‘Pyramid of Capitalism’, by Buamai via retronaut.

Advertisements

2 thoughts on “Keluh Kesah Akar Rumput

    • Belom di. ‘zit any good? Tar gw coba cari deh. Keren tapi tema tentang itu, dan kenyataan yang terjadinya gimana. Coba dulu guru sejarah sosial gw ngajarinnya gini. Udah pinter gw dari kapan tau. Ahaha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s