Cara Ngebaca Orang, Properly

*This article is about how to truly recognize people and where to take it from there. 1443 words. The author recommends to grab a snack and a cup of your favorite coffee before reading on.

The first thing that comes to mind tentang ngebaca orang itu biasanya sosok ilusionis ato ahli hipnotis yang sekonyong-konyong bisa baca isi kepala orang, ga jarang sampe demo “mind-control”. Kita yang lebih waras dan pinter harusnya sadar kalo mereka itu ga bener-bener “ngebaca”, apalagi sampe ngendaliin pikiran orang — jadi bukan macem itu yang akan dikupas di sini. (Lagian, kalo emang dia bener-bener bisa “ngebaca”, kenapa dia ga sekalian ngerampok bank? That way, kan dia jadi ga usah kerja lagi?)

“Ngebaca” yang dibahas di sini lebih ke person identification skills. To identify, means to recognize, ato “kenal“, luar dan dalem.

In the case for orang, kita bisa dibilang “kenal“, ketika kita udah sampe titik di mana kita tau apa pemicu, kapan dan seberapa sering dia marah; how he/she would feel about stuffs; what goals yang dia kejer.

Dan ketika kita udah bisa “mengenali” se-kompleks itu, barulah kita bisa easily decide for ourselves apakah seseorang itu “baik” atau “buruk”.

good-evil2-autumnspringwallpaperphotoshoppedwallpaperslightanddark-10baeb626bfa31b1a8218afd7074756e_hGood Tree, Bad Tree. [1]

Tapi bukankah yang baik dan buruk itu relatif ke masing-masing orang? Memang betul, tapi ada yang namanya universal truth yang berlaku buat semua orang, tanpa terkecuali, regardless of background, hence it’s objective. For the purpose of illustration, allow me to present the analogy antara…

Manusia dan Pohon.

Manusia itu bisa diumpamain  sebagai pohon; mereka, pada dasarnya, cuma terbagi jadi dua macem menurut sifatnya: pohon yang “baik”, atau pohon yang “buruk”. It’s either one or the other. Dan seperti halnya pohon, demikianlah manusia itu juga menghasilkan buah.

No good tree bears bad fruit, nor does a bad tree bear good fruit. Pohon anggur ga mungkin ngehasilin semak duri, begitupun semak duri ngehasilin buah anggur. Kesimpulannya, dari buah-buahnyalah, kita bisa mengenali mereka.

Emangnya what kinds of fruits are there, and which belong to which tree?

316010_5084267_bFruits of the Good Tree. [2]

Let’s start with the good tree. Buah dari pohon yang baik, in essence, can be narrowed down to nine:

Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

These together make up for buah-buah pohon yang baik. Let’s break it down:

    1. Love, atau Kasih. The most powerful fruit — hands-down.  I’ve dedicated its own topic extensively in my previous piece.
    2. Sukacita, atau Joy. Adalah ketika kita rasanya kayak kaleng soda tertutup yang dikocok — rasanya ada overflowing warmth and energy bursting from within, sampe bikin mau joget-joget, ato nyanyi-nyanyi sendiri, saking senengnya. Saking sukacita-nya.
    3. Damai Sejahtera, alias Peace, ato Pax dalam bahasa Latin. Adalah ketika kita ngerasa super-secure, aman, meski kenyataannya kita lagi dikepung masalah, tapi kita ga kuatir, ga takut. Buah ini bikin orang bisa tidur nyenyak at night, meski besok paginya tau bakal dikunjungin oleh orang suruhan dari mitra bisnis yang gagal, yang ancang-ancang mau nge-press charge ke pengadilan hingga sebesar 10-digit IDR. That secure. That worriless, karena sadar bahwa kita Tuhan jaga.
    4. Kesabaran, or Patience. Bukan macem misal jadi lambat untuk marah, tapi sabar menunggu proses. Sabar nunggu tergenapinya janji Tuhan, yang ga akan pernah teringkar dan pasti. Sabar dalam “pengharapan”, for it may take years. Don’t be discouraged though, karena semua akan terjadi dalam waktunya yang indah.
    5. Kemurahan, alias Kindness. Buah ini keliatan ketika orang jadi ga pelit, ga kikir, ga berpolapikir kalo nge-share itu “nunggu kaya dulu”. Karena orang itu ngerti bahwa Tuhan akan penuhin lagi pundi-pundinya, makanya dia ga kuatir akan berkekurangan.
    6. Kebaikan, a.k.a Goodness. The common good, ato kebaikan yang dapat dinikmati oleh semua orang, semua insan. This fruit can be attributed to those who have been considered “men of the people”.
    7. Kesetiaan, alias Faithfulness. Terhadap? Tuhan, as indicated by kesetiaan orang kepada pekerjaannya (diligent, ga males), dan devotion-nya ke keluarganya sendiri.
    8. Kelemahlembutan, atau Gentleness. Don’t mistake this with ke-“lebay”-an (is that even a word?). Ilustrasi dari buah ini, bagaikan seorang Bapa yang penuh kasih, yang kalo negur itu pake hati yang lemah lembut — bukan gada keras ato bambu rotan — meski si anak salahnya udah kadung keterlaluan.
    9. Penguasaan Diri, the last but definitely not the least, otherwise known as Self-Control. Sadar ga sadar, we’re always at constant battle  for control over ourselves, ngelawan ke-da-ging-an kita sendiri. Contoh miskinnya pengendalian diri misalnya anger management issues, ato watak yang mudah terprovokasi. Ujian pengendalian diri bisa kayak nahan emosi pas lagi macet, siang-siang panas, diserempet motor, laper pula. Contoh kedagingan misalnya temporary escapes through mind-altering substances yang rentan dengan abuse.

Good_Tree_Natural_by_PartisanEntityThe Lush, Good Tree. [3]

Kalo buah-buah ini bisa kita identify dalam karakter seseorang, we can rest assured that dia termasuk “pohon yang baik”. Lantas kalo buah dari pohon yang buruk?

Here’s an exhaustive list, including but not limited to: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, gila akan hormat, saling tantang, saling dengki.

Allow your mind to picture every fruit, terus dibandingin dengan buah dari pohon yang baik. Quite a stark contrast, eh? Inget aturan kalo pohon yang baik ga mungkin menghasilkan buah yang buruk, dan juga sebaliknya; it makes it all the easier.

Ah, tapi itu semua baru cuma teori. Berarti saatnya kita bahas…

Prakteknya di Lapangan.

Disclaimer: ga perlu tau tentang psikologi ato punya gelar asisten profesor buat ngerti dan mraktekin wawasan ini. Karena sifat dasarnya yang universal tadi, ngebuat hal ini bisa dimengerti oleh semua orang. However, sedikit imajinasi akan sangat ngebantu.

The cues that we look for to identify in a person is rather hard to grasp, at first, karena mereka bukan buah biasa; mereka ga visible.

Kuncinya, adalah pengamatan. Apa yang kita amati emang? Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya, sometimes matanya, dan perbuatannya. Ini karena keduanya mengungkap isi hati.

Kata-kata itu berasal dari hati. Kalo lewat perkataannya, hatinya ternyata meluapkan kebencian, kekecewaan, amarah, kedengkian — we can discern them as pohon yang “buruk”. Biasanya mereka yang “buruk” ini exhibit juga the following symptoms: suka berkelit, penuh rahasia, minimnya transparansi.

471x263xsleepy-hollow.jpg.pagespeed.ic.3HfwJGMYOHThe Bad, Corrupt Tree. [4]

Sedang mata juga adalah “jendela“-nya hati. Kalo ada sesuatu yang ngebuat matanya rada ga nyaman untuk ditatap — it reflects a bad intent. Bayangin aja tatapan orang yang mesum, ato penuh dengan dendam, ato yang “menyeringai”. Kalo di kartun, matanya berubah jadi ijo at the prospect of making more money, ato jadi merah ketika orang lagi at the brink of erupting anger. The eyes do show.

Tapi kalo dari kata-katanya seseorang bisa membangkitkan (cheer up) semangat yang hancur, ato dia bisa calm down orang dari kekuatiran ato amarahnya — barulah ini pohon yang “baik”.

Jadi, dalam meng-assess karakter orang, buah-buah pohon baik tadilah yang jadi acuan. Ga mungkin ada orang yang nge-skor tinggi di buah-buah yang baik, tapi at the same time exhibit signs of the bad fruits.

Anggep aja formatnya kayak rapor anak sekolah; jadi nilainya bukan “ada” atau “ga ada”, tapi sifatnya rentang — antara 0-100%, ato “A” hingga “F”. Makanya ada expression “sukacitaku penuh” — thus, ada juga yang “ga penuh”, but still plenty nonetheless. Overall, akan ada yang nilainya “udah bagus”, ada juga yang mungkin “needs to be worked on”.

Why all these matter.

Wawasan tentang buah manusia ini bisa jadi proteksi buat kita terhadap orang-orang yang aslinya serigala tapi nyamar pake kostum domba, misalnya tukang manfaatin orang atau para oportunis, seperti contohnya guru spiritual gadungan; yang akhirnya digugat rame-rame oleh mantan pasiennya yang ternyata udah dirugikan secara materil hingga puluhan juta rupiah, belom lagi rugi imaterilnya. Jadi mereka pake kedok bawa-bawa nama Tuhan demi muasin kedagingan (baca: masuk kantong) sendiri. Gila ya?

Tapi masih ada aja yang “ketipu”. Karena, secara kasat mata, they can pass as “the good tree”, until they show signs of being penuh rahasia, ga transparan, merasa bak raja yang paling benar dan paling berhak diutamakan. Bener-bener kasus klasik “manusia yang ingin didewakan”. The lesson here is, jangan tertipu oleh penampilan dan apa yang “tampak”.

Makanya it’s always important for us untuk “milah-milah” temen; orang buat numpahin keluh kesah; calon romantic partner; kandidat team leader dalam suatu korporasi; caleg; capres; bahkan calon mitra bisnis (investasi bodong, anyone?).

We need to be sure that we choose the “right” one. Karena “bad company corrupts good character“; this is especially true buat pilihan who we surround ourselves with. As Joel Osteen neatly put it, “You just can’t hang out, or surround yourselves, with negative people and expect to live a positive life”.

one bad appleA Bad Company. [5]

Dan for the case of temen: so much better mereka yang nerima kita apa adanya dan genuinely care about us  — bukan yang munculnya cuma pas kita lagi “punya” aja. Giliran pas kitanya lagi dalam masalah dan lagi “ga punya” dan butuh support, malah mereka ga available, bahkan mencibir dan menjauh, atau worst, sampe nge-betray a secret that was meant for keeps. Do we really want a “bad tree” as a friend, or romantic partner, or business partner, or as team leader?

Buat apa kita keep mereka yang “ga jadi berkat” dan malah jadi batu sandungan buat kita, ato buat perusahaan? Udah ga mendatangkan sukacita maupun damai sejahtera, kasih pun tak punya (namanya juga pohon yang buruk).

What makes a good tree, or bad, anyway? Jawabannya adalah, personal relationshipnya dengan Tuhan. Karena Tuhanlah pokok dan kitalah carangnya. God is the vine, we are the branches. If the branch remain in the vine, it will bear much fruit. Apart from the vine, the branch can pretty much do nothing.

One more note: “si buah pohon baik” tadi, selain kita pake buat “nimbang” orang lain, adalah adil kalo kita juga pake untuk “naker” diri sendiri. Renungkan dan figure out where do we stand on the spetrum, with respect to masing-masing buah tadi. There must be some stuffs that needs to be worked on, karena kita ga sempurna. Jadi selain kita nge-measure “baik” ato “buruk”-nya orang lain, kitapun menguji diri sendiri masing-masing. Supaya? Kita ga jadi orang yang ngeliat kuman di seberang laut, tapi gajah di pelupuk mata sendiri ga tampak.

*God, it feels so good to write again. Please share, should you feel you’ve been shed some light. Have a great weekend, everyone!

Image Credits:

  1. “Good Tree, Bad Tree” via Happymindbook.
  2. “Fruits of the Good Tree”, art print by Liyin, via Society6.
  3. “The Lush, Good Tree.  by Partisanentity via Deviantart.
  4. “The Bad, Corrupt Tree” by Giovanni Garcia-Fenech via his blog.
  5. “A Bad Company” by Jack Paco Dodgen via his blog.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s