Hati Yang Mau Belajar

[698 words. In tandem with Don’t Take Things Personally.]

The most redeeming trait a person can have adalah keinginannya untuk belajar.

Doesn’t matter asal-usul sosio-ekonominya maupun karunia fisiknya, jika mereka ga punya keinginan untuk belajar, mereka hanya akan add up to the number of orang-orang sok tau dan self-righteous, yang pemikirannya sempit dan sulit menerima pendapat orang lain (it’s time to cull the numbers).

Sadly for them, they are at greatest odds of being stagnant and not fully developed, let alone self-actualizing; ini karena mereka kurang bisa dengan cantik nge-handle…

Kritik.

Ga semua orang bisa menghadapi kritik dengan baik. Atau mungkin ga tau caranya. Begitupun saya sendiri, dulu. Kritik ini sebenarnya bagus buat pertumbuhan personal si yang dikritik. Itulah kenapa, “don’t seek praise, seek criticism.” For with it we can go a long way. Artinya: kita jangan terbuai oleh pujian.

Praise_Poster

  Praise & Criticism.

Having said so, memang ga semua kritik yang disampaikan ke kita itu are easy on the ears  (how we wish it would be so). Ignore the pain (if it hurts), just focus on the lesson. Itulah kenapa kita sebaiknya belajar nge-appreciate and take a full advantage dari setiap kritik yang coming our way. Karena penting untuk memperbaiki diri lewat pantulannya, kritik itu ibarat…

Cermin.

Maksudnya? Ketika dikritik orang yang agak pedes dikit (tapi so true and spot-on), jangan malah dimusuhin si pengkritiknya. Jangan langsung jadi defensif dan nyangkal. Makanya jangan dimusuhin temen dan orang lain yang nge-kritik kita, karena justru merekalah yang qualified sebagai temen yang peduli, bukan temen yang malah ngejerumusin dan nyeret kita makin dalem ke kesesatannya yang nyimpang dari apa yang benar.

Mereka yang peduli itu bagai cermin; we need them to improve. So keep them around. Surround ourselves with those who care.

mirrors

Staring at ugly reflection? Don’t break the mirror.

Cermin terbesar dari kesemuanya, adalah firman Tuhan, yang menyatakan kesalahan dan mengajar orang dalam kebenaran. To rephrase it, jalan tercepat dan ter-efektif a person can have in order to transform to be the best possible version of ourselves, adalah lewat pengenalan dan pendengaran akan firman Tuhan.

Tapi sayangnya ada aja yang gets in the way of cermin agung ini dihadepin ke kita supaya kita bisa belajar memperbaiki diri, yaitu…

Kesombongan. 

Lagi-lagi ini adalah kreasi lain bikinin Si Jahat: mortal arrogance. Dia berbisik ke kita dalam bentuk negative self-talk yang kira-kira bunyinya:

“Kamu lebih pintar dari mereka.”

“Apa kamu yakin mereka lebih benar daripada kamu?”

“Kamu seharusnya marah karena mereka sudah menghina kamu.”

af4b575709e9b27f7c133dab4d83217b

Don’t let pride get in the way.

Mereka yang sombong dan yang paling mudah naik pitam itu paling rentan kena intimidasi model ini, karena Si Jahat memanfaatkan ego mereka sendiri against them. Stroked ego, swollen pride. Akhirnya mereka nolak mentah-mentah kritik dan saran, bahkan firman Tuhan yang hidup, (no) thanks to their self-righteousness.

Semua gara-gara diperdaya oleh Si Juru Perdaya. Itulah kenapa bener banget amsal yang bunyinya, “berbahagialah ia yang mendengarkan nasihat karena ia…

Bijak. 

Yang namanya hidup itu selalu belajar, always on the move, ga boleh stagnan. Dan dalam proses belajar ini, semua orang akan encounter and make many mistakes, karena lagi-lagi tanpa berbuat kesalahan orang ga akan pernah bisa berkembang. Mistakes facilitate growth, as long as people learn from it.

Dan yang namanya kesalahan itu akan terminimalisir bahkan tereliminasi nantinya dengan adanya masukan, termasuk kritik. Jadi mendengarkan (ga sekedar masuk-kuping-kiri-keluar-kuping-kanan) saran dan kritik equals to bahagia, sebab ia bijak, oleh karena punya hati yang mau belajar.

three-wise-men-christmas-coloring-pages-07

The three wise men. 

The takeaway? Jangan minder atau terintimidasi dengan tingkat pemahaman kita akan sesuatu yang masih relatif minim dibanding mereka yang udah jauh lebih paham dan lebih terampil. Semua yang berhasil menjadi pakar dalam hal apapun, pada awal mulanya adalah pemula juga.

Akin to the journey to becoming a better parent. Or a better child. A better spouse. A better professional. A better employer. A better partner. A better businessman. A better teacher. A better disciple. A better person. A better human being; every single one of them started as a foolish youth at some point in their lives. Remember…

It’s never about how good we are, but how good we want to be, and all that it takes is the heart that is so humble yet so eager to learn.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s