Musuh Terbesar Kita

Apa kesamaan antara orang yang ragu, minder, mereka yang putus asa, skeptis dan pesimis, mereka yang rendah diri dan mereka yang mudah nyerah? Kesemuanya adalah korban. Korban yang berhasil diperdaya oleh sosok abstrak; sebut saja Si Jahat (julukan tidak disamarkan). Tunggu, diperdaya?

Semua gejala tadi sebenernya adalah rupa intimidasi yang dilancarkan oleh Si Jahat ke kita. Analoginya mirip dengan panah api yang ditembakin musuh. Serangannya biasanya termanifestasikan dalam bentuk negative self-talk — yang kalo di adegan psychological thriller, digambarin si karakter lagi having internal struggle with maddening whispers inside his/her head.

Misalnya, “Kamu tidak akan mampu.” “Kamu tidaklah semenarik dia.” “Kamu pasti gagal dan hanya akan mempermalukan dirimu sendiri.” “Kamu tidak pantas.” “Kamu tidak layak.” “Bagaimana kalau nanti terjadi ini, itu?”

Sungguh bisikan yang sesat. Ironisnya lagi, ini timbul dari dalam diri orang-orang sendiri, and they believed it. Worse, many don’t even realize it. Padahal ini belum termasuk intimidasi dari pihak eksternal bak kaum pencemooh alias haters. (Why it seems to be there are more and more haters these days?)

david-vs-goliathImage credits.

Efek yang bisa diamati dari orang-orang yang lagi having negative self-talk adalah jadi “kalah sebelum perang”, ada juga yang jadi cemas berlebihan, ada lagi yang jadi mengasihani diri sendiri. We should ask ourselves this: Bapa mana yang ingin melihat anaknya “kalah sebelum perang”, cemas berlebihan atau mengasihani diri sendiri?

Memang intensitas intimidasinya bisa semenakutkan a roaring lion dengan jarak cuma lima meter di depan mata, tanpa jeruji baja di antaranya — that terrifying. Atau bayangin apa isi kepala orang-orang selain David ketika ngeliat kalo lawannya adalah Goliath yang segaban-gaban? These series of intimidation is  happening not without a reason; ini karena Si Jahat pengen kita shy away from God’s liberating grace.

That’s why he is called Si Jahat; dia menggiring orang menjauh dari kebenaran, yang dalam kasus ini adalah hidup yang bebas kekuatiran dan ketakutan, oleh karena kasih karunia dari Tuhan — itulah janji Tuhan.

Ibarat seorang wanita yang mengalihkan pandangan prianya agar si pria tidak terpikat wanita lain yang sangat cantik yang sedang lewat; begitulah Si Jahat. He knows there are good things over “there”, so he relentlessly intimidates people so they never reach or achieve what they’re supposed to reach or achieve. Ya namanya juga Si Jahat?

But fret not, mon ami. Ketahuilah bahwa intimidasi itu ada obatnya; namanya iman, yang menjadi bagai perisai.

9317Image credits.

Iman berarti percaya, dan tiada pernah Tuhan membiarkan orang percaya terintimidasi oleh apapun — ini juga janji Tuhan. Karena Roh yang berasal dari Tuhan yang tinggal di dalam mereka itu lebih besar daripada kekuatiran dan ketakutan yang berasal dari dunia — yang lagi-lagi merupakan hasil karya Si Pemerdaya dan kroninya — principalities of the world — yang bikin orang jadi menyimpang dari semua yang Tuhan telah firmankan.

Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging — bukan melawan sekolah lain, kampung lain, negara lain, atau idealisme lain. There’s a bigger work at play here, but it requires a careful eye to see through and not fall to the ruse of the Great Deceiver; Si Jahat. Sekian banyak orang-orang tersesat itu — yang contribute to meroketnya populasi orang stress — hanyalah korban. Jadi ketahuilah siapakah musuh yang sebenarnya.

In every battle, we understand that knowledge is power, and knowing is already half the battle. Dan dasar dari segala pengetahuan itu sendiri adalah takut akan Tuhan. Bukan takut akan nomer telefon, tanggal di kalender, klien atau bos yang agitated even enraged, presentasi penting atau ujian examination ato assessment yang sangat menentukan; jangan takut. They’re just another fiery arrows of intimidation closing in on us. Thus we shield ourselves, with faith. Dan iman ini akan semakin kokoh dengan pendengaran akan firman Tuhan.

mind2Image credits.

There’s one way people can tell individuals with unwavering faith: they radiate unending confidence, and it’s contagious. These people inspire other people. They are the beacon of faith, love and hope, and this is due to God is their rock, their strength, their luminary, their liberator. They too, at some point in their lives get intimidated and have periods of negative self-talks too — just like everybody else. Just like us.

Bedanya? Merekalah pemenang, yang berhasil memerangi segala intimidasi dari Si Jahat, to the point where none of it works no more — saking kebalnya. They prevail. They fly above it. Karena Tuhan jadikan mereka lebih dari pemenang. So, regarding musuh terbesar kita; kitapun lebih dari pemenang oleh karena kasih karunia Tuhan. Own it and believe it. Guard our mind. And fight back the negative self-talk and fill your mind with…

Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s