Kalo Ga Sanggup? (Tuhan) Sanggupin!

Ibarat masih bau kencur, ato masih ijo, mereka yang relatif lebih muda dibanding yang lain akan sering dihantui sama threats yang berbentuk: disepelekan, diremehin, dianggap enteng ato dipandang cuma sebelah mata aja, oleh orang lain. Bisa dari atasan di tempat kerja, bisa dari “abang” di tempat pergaulan kita, bahkan dari keluarga sendiri — pelakunya biasanya mereka yang lahir duluan, dengan asumsi kalo mereka yang lebih punya pengalaman dan asam garam hidup, yang ngebuat mereka beranggapan kalo otomatis merekalah yang lebih bener.

Disepele-in itu termasuk salah satu bentuk intimidasi yang ditembakin Si Jahat ke kita, lewat lingkungan kita. We actually have the options to either be affected by it, or choose to ignore it — like when we brush the dust off our shoulders. Like it was nothing.

Kalo orang “ga sengaja milih” ngebiarin dirinya sendiri jadi kepengaruh, reaksinya biasanya ga terima dan jadi defensif (dengan marah-marah ato denial alias nyangkal). Abis itu hatinya memar untuk selang waktu berapa lama, yang walhasil bikin pikiran jadi ga tenang, and still many other side effects. Tanpa sadar, dengan “ngebiarin” diri sendiri kepengaruh itu sama aja dengan ngebiarin sukacita dan damai sejahtera-nya dirampok oleh si Jahat.

The_Scream“The Scream” by Edvard Munch via Wikipedia

Jadi yes, we are on a constant battle. With none other than ya si Jahat itu sendiri, yang mengaum-aum bagai singa lapar, ngeintimidasi orang-orang on a regular basis. Singa ngaum kan serem? Apalagi kalo jarak lima meter di depan muka. Ilustrasinya begitu, tapi kita tetep ga boleh takut. But how does one combat his/her own fears?

To explain the matter better, let’s get acquainted with the knowledge kalo  “peperangan kita itu bukan melawan daging dan darah”, kayak sebelom jaman nabi dulu, “tetapi melawan roh-roh penguasa di udara”, yang tak lain adalah kroni-kroninya si Jahat itu sendiri. Dialah yang selama ini dalang yang ngeintimidasi orang sampe orang jadi takut, cemas, ragu, putus asa dan kuatir. Itulah yang mesti dilawan. Bukan idealisme ato keyakinan orang  lain yang berbeda dengan apa yang dirinya pegang, for that would be urusan pribadinya dia dengan Tuhan. So everybody should just mind their own bloody business. Isn’t that ritey, mate?

Kita ga boleh takut, karena di dalam kasih itu tidak ada ketakutan, dan barangsiapa takut maka ia tidak sempurna dalam kasih. Caranya kita ngelawan ketakutan yaitu dengan kasih. Kasih itu adalah the answer as to what the best coping mechanism is. Supaya “jangan seorangpun memandang rendah kita karena kita muda” itu ya juga pake kasih. Jadi semuanya kembali lagi ke kasih, yang di mana kasih itu sendiri adalah Tuhan, yang makanya jelaslah kenapa kasih mengalahkan segalanya.

Kasih ngasi clarity ke hati dan pikiran, jadi perkataan dan perbuatan kita terjaga juga; that’s how it works. Kita jadi ga kesulut untuk nyautin balik dengan amarah. Begitupun juga perbuatan, yang tetep adem ayem, “selow” layaknya kaum hippies era 70-an. Kalo contoh kasusnya dalam settingan tempat kerja, performa kerja kita ga turun, justru malah naik, karena kasih ngebuat kita unaffected.

tu es formidableImage by arlette1950 via centerblog 

Pernah denger kalo muda-mudi dalam penyertaan Tuhan itu laksana anak panah di tangan pahlawan? Maksud metafornya itu gini: anak panah itu carefully crafted, deadly, and eventually they all must fly (ga ada anak panah yang nganggur selamanya di tabung panah). Itulah kita ketika Tuhan beserta kita. We’re not adorable young adults/people; We’re the formidable ones. We’re capable of doing some considerable impact on something we’re aimed to. Tuhan kan buat kita jadi kepala, bukan ekor?

Sedang pahlawan itu sendiri adalah Tuhan. Dan penyimpangan dari Tuhan-lah yang jadi lawannya Tuhan — Sang Pahlawan. Ke sanalah kita di-”keker”, ibarat crosshairs-nya senjata seorang sniper. Kita disertai dan dikirim oleh Tuhan untuk pierce through ke-tidakbenar-an yang jadi musuhnya “kebenaran”, yang adalah berasal dari Tuhan. Ibarat catalyst of change, kita jadi garam dan terang di manapun kita berada, dan ngebuat immediate surroundings jadi ikut terberkati lewat kita.

Dan dengan bersama Tuhan itu kan kita lebih dari pemenang? Ini termasuk menang dari intimidasi dan segala efek sampingnya tadi. Soekarno aja dikenang dengan quote-nya, …

“Berikan aku seribu orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, tetapi beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. -Soekarno

Gimana mau ngeguncangin dunia kalo pemudanya udah keburu kalah duluan, ke-intimidasi oleh si Jahat yang nyerang lewat lingkungan di sekitar dia?

Dengan kasih juga, kita jadi teladan bagi mereka yang belum hidup dalam kasih. Kasih, hikmat dan kedewasaan itu kan ga proporsional dengan usia. Liatlah kalo Tuhan malah bisa pake kita, untuk ngedidik dalam kebenaran mereka yang belum kenal kasih. Karena dengan kasih, orang bisa terus sopan, tulus, penuh ampun, kuat dan ga gampang down. Apa namanya itu, kalau bukan teladan?

a_candle_in_the_dark_by_doopnooper-d66c08iImage by doopnooper via deviantart

Ibarat cahaya lilin dalam kegelapan yang jangan sampe padam dan malah ikut jadi gelap juga, begitulah kasih harus terus diperjuangkan dan dipertahankan.

Kenapa ada orang bilang kalo worst enemy-nya manusia adalah dirinya sendiri? Karena intimidasi dari si Jahat itu juga nyerang lewat diri kita sendiri, selain dari eksternal aja. Ternyata emang kitapun sendiri masih suka nyepele-in diri sendiri, dengan tanpa sadar ter-“intimidasi”. Even I still do at times. So, we need to shut out those negative self-talks, and start doing ourselves a favor.

Yang sering terlontar dari mulut para muda, ketika lagi berhadapan dengan Goliat — repesentasi sesuatu yang orang ragu orang sanggup lewatin — responnya kurang lebih, “Ah, gw ga mungkin bisa, gw masih muda, masih minim pengalaman.”

Ga boleh ngomong gitu. Karena lidah punya kuasa. Dan bikin statement seperti itu sama aja ga “percaya” kalo Tuhan mampu untuk mampuin kita. Jangan biarin logika manusiawi kita — yang sering dimanfaatin oleh si Jahat — memadamkan iman kita sendiri. Kalo ngerasa ga sanggup? (Tuhan) sanggupin. And speaking of kasih juga, kita sebaliknya pun jangan ngeremehin orang lain, termasuk mereka yang lebih muda dari kita. It’s about time the vicious cycle stops.

Advertisements

2 thoughts on “Kalo Ga Sanggup? (Tuhan) Sanggupin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s