Orangtua Kita Itu Ga Sekuat Yang Kita Kira

Semua orang yang pernah jadi anak pasti akan ngelewatin masa di mana mereka mulai sadar kalo tingkah laku orangtua mereka ada yang rada ajaib (my personal preferenced term buat yang ga berkenan di hati). Ajaibnya bisa beda-beda satu orangtua ke yang lain, contohnya:

Dari yang ga mau kalah meski tau mereka salah. Ada yang ga bisa dibantah. Ada yang suka ngasi opini gratisan yang sangat uncalled-for (mending opininya relevan juga?). Ada yang jadi suka uring-uringan gara-gara hal sepele (yang bikin satu rumah jadi edgy). Ada yang jadi gampang meledak-meledak (kayak petasan jangwe). Ada yang punya kebiasaan jelek ngebanding-bandingin anaknya sama orang lain (gara-gara kayaknya nganggep anaknya never good enough). Ada lagi yang cepet banget liat negatifnya duluan, alias serba skeptis dan pesimistik. The list goes on.

Agak mencengangkan, emang. Berbagai macem hal ajaib ini punya satu kesamaan: ampuh bikin si anak jadi kesel, marah, bahkan pahit hati. Ga jarang jadi terlontar di pikiran si anak, “Gue ga akan gitu ke anak gue pas udah jadi orangtua nanti”. “Easier to ask forgiveness than permission” pun akhirnya mau-ga-mau jadi mantra dan filosofi buat beroperasi, saking terlalu seringnya dilarang dan terlalu strict-nya dikekang. Well, it’s gotta stop. How do we respond to it? It needs to be properly addressed, supaya…

Jangan Lagi Ada Angkara

Perilaku-perilaku aneh bin ajaib ini, in much deeper context, sebenernya adalah ya gara-gara orangtua itu ga sekuat yang kita kira. However still, ga kayak yang kita pernah liat sebelomnya. Makanya awalnya si anak liat pasti jadi bingung, kayak mukanya Rex Ryan of New York Jets di gambar bawah (gotta love his perplexed expression). Itu karena sebagai anak, kita sejak kecil terbiasa ngeliat orangtua serba bisa.

rex-ryan-perplexed-face

Image via Gamedayr by BuzzFeed Sports/Twitter

Orangtua pun hanya manusia biasa just like everyone else; mereka bisa salah juga. Makanya ketika orangtua lagi ajaib, jangan ada perkara atau kepahitan atas ketidaksempurnaan mereka. Instead, gantian kita yang mulai ngertiin mereka. Kenapa? Karena itulah bentuk hormat kita balik ke orangtua kita, yang cintanya ke kita unconditional.

Hormat ke orangtua berarti naro hormat juga ke perjuangan mereka dalam ngemban tanggungjawab keluarga. And let me tell you that it’s not an easy undertaking (future parents, please take note). Tanggungjawab keluarga itu sederhananya cuma keeping the family together, and never let it fall apart. Prakteknya tapi, not as simple as it sounds.

Makanya kudos — hat’s off — buat mereka yang udah ditinggal pergi orangtuanya dari umur yang relatif muda, yang di mana mereka jadi harus dewasa (dan pegang tanggungjawab) lebih cepet, dan jadi sadar akan semua ini lebih cepet dari rata-rata sepantarannya: you fellows deserve a mad respect. The curious question then, is how do one keep his/her family together. Caranya, simply dengan kontribusi ikut menuhin kebutuhan dasar keluarga yang kebagi jadi tiga: …

Jasmani, Emosional dan Spiritual

Kebutuhan jasmani itu terpenuhi dengan uang, dan uang dateng dari kerja ato usaha: dia paling mudah dipenuhi. Kebutuhan emosional, on the other hand, agak lebih tricky: karena mereka ga tampak. Ini dipersulit lagi dengan kita yang kebetulan adalah orang Indonesia yang ga terbiasa — atau ga tau caranya — ngungkapin emotions dan perasaan kita secara sehat ke orang lain. So fulfilling emotional needs is going to be extra challenging: karena nge-sense-nya aja butuh kepekaan yang ekstra juga. Pemenuhannya pun harus ditandemin bareng jasmani, karena mereka sama pentingnya. Kebutuhan jasmani terpenuhi tapi emosional ga, itu bagai rumah puri kastil cantik yang dingin dan tak mengundang. Get the picture?

Sekilas kalo diamatin, sebenernya penyebab sederet tingkah ajaib orangtua — dan kebanyakan orang pada umumnya — itu adalah gara-gara ga adanya outlet tepat buat unload emotions mereka yang bottling up inside. Their needs to express their inner turmoil are unattended. So we’d better not leave emotional needs unattended. Karena di situlah yang orang sering kecolongan, kalo ibaratnya maen bola. Punya harta dan aset banyak tapi keluarganya terpecah-belah: bukti kalo duit ga bisa muasin kebutuhan emosional keluarga. Mereka somehow lupa or totally unaware of this equally important needs. So how do one accomplish fulfilling his/her family emotional needs?

Salah satu caranya, dengan kita look past “ajaib”-nya orangtua kita. Ini termasuk maafin, maklumin dan ngertiin kekurangan mereka. Dengan gini, we take part in keeping the family together, by simply not taking things personally, out love and mad respect to our dear parents. Buah yang kita petik dari sini adalah harmony within the family. Terus kenapa harmony within the family is so important? In case people have forgotten, it’s because…

Family Comes First

Tuhan pengen kita untuk nyelametin keluarga kita dulu. Yang by extension, includes in-laws too (yang berarti termasuk mertua). Keluarga adalah benteng utama dan pertahanan terakhir kita, yang Tuhan pengen kita jaga. Tapi jangan disalahartiin kayak kasus dinasti politik; mereka salah, gara-gara tega nginjek kepentingan bersama demi nyelametin keluarganya. Mereka tamak. Dan akan tiba waktunya bagi mereka buat nuai ketamakan mereka sendiri. Banyak yang gini, yang sampe diusut belangnya for everyone to see di berita nasional. Bad publicity, but publicity nevertheless, eh?

Na’a. Untuk apa orang punya jabatan hebat, harta banyak, dan titel bermeter-meter, kalo keluarganya terbengkalai dan hancur, runtuh? Temen aja dibela-belain banget. Masak giliran keluarga butuh kita, kitanya ga rise to the occasion? Lagian kan itu termasuk tabur-tuai kebaikan juga. Siapa yang ga mau pas ntar jadi orangtua, bahkan sebagai mertua, diperatiin sama anak-anaknya dan menantunya in return?

Itulah give and take. (And it’s for good reason kenapa urutannya give dulu baru take). Dan karena kita ngerti betapa pentingnya ngejaga keutuhan keluarga, masukan buat para orangtua — bahkan buat kita juga yang nanti eventually akan jadi orangtua juga — adalah supaya jangan keras hati.

Family-PapemelrotiImage via creyes.info by Papemelroti

Khususnya ke yang lebih muda (if not everyone, that is). Karena Tuhan bisa pake siapa aja untuk negur siapa aja. Berkeras hati sama aja missing out on hikmat Tuhan, yang bisa dateng dari siapa aja, bahkan anak-kecil-umur-empat-taun sekalipun. Keras hati itu sebenernya rupa ego, sedang ego adalah kesombongan. Dan kesombongan tidak berkenan di hati Tuhan.

Keras hati itu juga sama sekali ga ngebantu ngejaga rukun bersama, yang adalah esensi dari kebutuhan emosional keluarga itu sendiri. Masing-masing butuh diingetin kalo salah, bukannya saling nge-judge. Makanya, be humble. Possess a heart so tender and mild. Biar semua adem, semua ya-em. Karena rukun ngasilin buah sukacita dan damai sejahtera yang ngalir di dalem keluarga. Kalo udah gini, mau ngelewatin badai kayak apapun juga: they’re unshakable. Tak tergoyahkan. Dan resep rahasia untuk bisa sampe ke titik seperti itu, semuanya tergantung sama kebutuhan yang ketiga dan terakhir, dan yang paling penting…

Spiritual Matters

Kebutuhan spiritual itu simply adalah kebutuhan untuk intim dengan Tuhan. Keintiman yang uda mencapai tingkat tinggi itu sifatnya berapi-api; mengalahkan semua masalah dan segala logikanya, bagai matahari musim semi yang ngelelehin semua es sisa musim sebelomnya. Ciri khas keluarga yang spiritualnya terpenuhi adalah mereka glowing — bersinar — with joy & peace. Seakan-akan mereka hidup dalem dunia kartun MGM taun 1920’s, saking ga pernah keliatan sedih ato dirundung masalah (padahal mereka ya juga punya masalah).

That’s why it’s so soothing and fun to be around them: because their joy and peace are inspiring and contagious. Nular. Siapa di sini yang ga suka ketularan sukacita dan damai? Buah keintiman dengan Tuhan itu sendiri ngebuat mereka kayak ga kenal kuatir (termasuk kuatir akan orangtua yang beranjak makin mateng umurnya), sampe seakan-akan muncul anti-worry zone yang mancar kayak halo terang besar yang keluar dari mereka.

Spiritualitas itu nyadarin orang untuk yakin bahwa Tuhan pasti jaga orangtua dan keluarga mereka. Itulah kenapa kebutuhan spiritual paling penting daripada yang lain: dia bikin kebutuhan jasmani dan emosional akan terpenuhi dengan sendirinya. Itulah kenapa juga, semua akan ditambahin ke kita kalo kita nyari Tuhan dan kebenarannya dulu. Itu bener. Dan satu hal trahir yang juga sama benernya adalah…

Keluarga Bukanlah Keluarga Jika Tanpa Kasih

Buat apa harta banyak dan anggota keluarga akrab satu sama lain, tapi tanpa kasih? Apa bedanya sama keluarga mafia, ato dinasti politik yang tega dan kejem, yang toh hartanya juga banyak dan keluarganya deket (supaya ga di-dor sama musuhnya)? Mereka ga punya kasih. Makanya mereka kejem, dan tega.

Padahal jawaban dan kunci dari semua pergumulan keluarga, yang termasuk ngatasin ketidaknyamanan dari perilaku-perilaku ajaib anggotanya itu, ya adalah kasih. Ga perlu konsultasi ke marriage counselor ato psikolog ato psikiater: obatnya hanyalah kasih. Kenapa kasih itu sebegini pentingnya? Karena Tuhan itu sendiri adalah kasih. Makanya kasih itu mengalahkan segalanya.

Dan yang namanya kasih itu juga: we’ve gotta show it. Because we’re not mind readers, that’s why. Kita emang ga terbiasa exchange ato nge-verbalisir i-love-you’s kayak western people, but there are always alternatives. Bisa dengan ngebikinin teh anget, ato beliin gorengan kesukaannya (or healthier snacks, the better alternative), dengan mijitin (teknik yang terbukti ampuh sejak masa triassic), or even a hearty hug (they work wonders). Either way, it affirms the feelings, so it counts. Showing counts.

Hormat ke orangtua itu sendiri itself adalah an act of love, karena kasih itu ga mentingin diri ato ego sendiri. Itulah kenapa kita harus ngertiin dan ikut nolong orangtua kita nopang the load of keeping the family together, yang relatif cukup berat, sebagai bentuk kasih kita, karena orangtua kita itu ga sekuat yang kita kira. Merekapun, seperti kita sendiri juga orang lain, cuma manusia biasa yang punya keterbatasan, yang, mesti dilengkapin sama kasih karunia Tuhan yang — by contrast — ga punya batasan.

Advertisements

2 thoughts on “Orangtua Kita Itu Ga Sekuat Yang Kita Kira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s