Kenapa Menikmati Itu Ga Harus Memiliki

Smile

Enjoy + Syukur = Happy

Semua dimulai ketika seorang temen nanya gimana ceritanya orang baik yang bekerja keras itu bisa kalah sama orang curang yang pake jalan pintas. Waktu itu dia baru aja dirundung malang: ditipu di urusan bisnis, which costed him his hard-earned liquid wealth in the process. Dari situ dia ngebandingin kegagalannya sama kemewahan yang berhasil dinikmatin sama koruptor yang somehow belakangan ini sering muncul di tivi. Singkatnya, dia terus nanya (sambil becanda), apakah dia sebaiknya curang aja juga, demi ngedapetin kemudahan dalam hidup?

Just about right there, he committed a flagrant error for making such naive statement. He saw himself as the one outcompeted. Good news is, he never was. Dia, kayak kebanyakan orang, salahnya terletak di caranya ngenilai orang lain. Yang dinilai (sayangnya) cuma didasarin dari yang keliatan dia punya aja. Yang ga keliatan kayak hati dan kasihnya, ga ikut kenilai.

Gara-gara saking polosnya, masih banyak orang yang cemburu sama possessions orang lain yang didapetin dari hasil korupsi. Emang mereka ya memiliki; mereka punya segitu banyak aset yang gila-gilan. Tapi ironisnya, justru banyak yang ga tau kalo mereka sebenernya ga bisa nikmatin itu. How so? Untuk ngeilustrasiinnya, pertama kita harus ngerti konsep dan…

Bedanya Menikmati dan Memiliki

Dua-duanya sebenernya sama-sama karunia dari Tuhan. Bedanya, menikmati ternyata adalah karunia yang lebih penting dari yang satunya. Coba dipikir lagi, orang yang memiliki itu belom tentu menikmati, dan orang yang menikmati itu belom tentu memiliki. Banyak orang salah persepsi, nganggep menikmati itu baru bisa dilakuin kalo udah memiliki. Ini salah besar. Karena apa, ketika kita ngebahas tentang kebahagiaan sebagai buah yang bisa dinilai, memiliki itu ga mesti ngebuat orang jadi bahagia.

Kita ambil contoh mereka yang korupsi; apa sih yang ga mereka udah cicipin, in terms of materi? Harusnya mereka bahagia dong? Tapi nyatanya ga, seperti yang bisa kita amatin. Kecoreng martabat dan reputasinya, dan bayangin aja gimana itu akan terefleksikan dalam hidup orang-orang terdeketnya. Terus efek kolateralnya, belom lagi dampak dan beban kerusakan morilnya. Belom lagi aibnya. That’s a lot of stuff anyone can go through. We wouldn’t want any of that, would we?

Semua kerusakan itu ga bakal terjadi kalo orang dengerin apa yang Tuhan pengen dia lakuin.  Sesederhana itu. Tapi ga mesti artinya dengerin Tuhan itu mudah dilakuin. Karena seringnya, pesen dari Tuhan ga nyampe gara-gara orang-orang pada bebal, ato entah gimana berhasil dipalingkan dari Tuhan lewat berbagai macem hal. Misalnya oleh kesibukan kita, oleh pengejaran akan harta dan uang, oleh emosi-emosi negatif. Ditambah lagi fakta bahwa si Jahat terus ngasi cobaan ke orang-orang lewat kelemahan dagingnya masing-masing, sampe akhirnya orang itu terjerumus sendiri. Dari sini terus orang lalu ngerasa hidupnya seakan-akan berantakan.  Kalo udah gini, baru deh orang bertanya-tanya, …

Be Thankful

Be Thankful

Di Manakah Kebahagiaan?

Bahagia itu sebenernya buah dari menikmati hidup. Seperti layaknya pohon yang menghasilkan buah, bahagiapun adalah buah dari menikmati hidup, yang berarti orang itu bener-bener ngesyukurin semua yang dia milikin dan yang dia laluin. Ini termasuk masalah yang lagi dihadepin, karena masalah itu ibarat hadiah yang terselubung bungkus yang tinggal nunggu di-crack open aja.

Jadi bahagia di saat lagi ga punya itu adalah mungkin, karena bahagia itu ga bergantung sama materi yang orang punya. Jadi buat orang-orang yang masi mikir kalo kebahagiaan itu bisa dikejer lewat pemuasan materi, the bad news (or good news, if you see it through the broader perspective) is, they’re dead wrong. Makanya orang bilang kalo uang itu ga bisa ngedapetin kebahagiaan. Itu sangat bener.

Kebendaan ato materi itu ngasi ilusi bahagia yang nyesatin ke orang-orang. Sebenernyamereka yang ngejer kebendaan itu nyari kebahagiaan yang salah, di tempat yang salahThings they own will end up owning them.

Padahal ga usah jauh-jauh dikejer sampe keliling dunia kayak di film-film; bahagia itu cuma sejauh dalemnya diri masing-masing orang. Tapi ibaratnya it’s so close, yet so far. Ga berarti mudah juga menggali kebahagiaan ke dalem diri. Tapi meski ga mudah, bukan berarti itu ga mungkin.

Sumber musuh terbesar dari misi telusur hati yang ngasi kebahagiaan ini, asalnya dari kecenderungan manusia duniawi yang ga akan pernah puas. Kedagingan yang dipuasin itu cuma ngasilin bahagia yang semu. Makanya korelasi antara bahagia dengan materi yang dimilikin itu non-existent. Alias ga ada. Mereka bisa bahagia meski ga hidup berlebih. Dan resepnya supaya bisa jadi gitu, ternyata adalah cuma…

Bersyukur Dalam Kecukupan

Dan juga berbagi. That’s the other secret. Berbagi itu mestinya ga baru dilakuin setelah orang udah punya lebih. Makanya hebat orang-orang yang bisa berbagi dari kekurangan mereka. Padahal mereka juga mungkin lagi butuh. Tapi mereka ga kuatir jadi kekurangan, karena Tuhan akan bales kasih yang mereka tabur.

Contohnya bisa jadi orang-orang lain jadi baik balik ke mereka, yang bakal gladfully come to the rescue ketika mereka butuh bantuan. Itulah tabur-tuai kasih. Tabur-tuai kasih menghasilkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagian sejati itu buah dari menikmati tingkat tinggi, yang ga gampang digrogotin ilang oleh masalah-masalah yang muncul. Inilah kenapa, kalo dibanding memiliki, menikmati udah jelas yang jadi clear winner.

Curang demi kemudahan dalam hidup — as in jadi kaya lewat jalan pintas dengan jalan korupsi — itu salah. Kemudahan inilah sebenernya dimanfaatin oleh Si Jahat buat nyesatin orang, karena akarnya adalah kedagingan yang potensial ngebikin orang jadi tega buat step over people’s rights or boundaries, to get whatever he/she desires. Ini gara-gara kedagingan ngebikin orang jadi egois, mentingin diri sendiri. Jadi udah tujuannya salah (diri sendiri), caranya salah pula (tega).

Tanpa syukur, yang buahnya adalah karunia ngenikmatin, apa yang kita milikin justru malah bisa ga jadi berkat, ato barokah, yang malah jadinya bisa diambil Tuhan balik, kapan-kapan semau Tuhan. Ditambah alasan itu jugalah, kenapa menikmati itu ga harus memiliki. Makanya, enjoy aja. Apanya yang di-enjoy? Semuanya, termasuk susah-susahnya (kalo nge-enjoy yang seneng-seneng mah gampang). Caranya? Bersyukur. Supaya happy. Bahagia.

Advertisements

2 thoughts on “Kenapa Menikmati Itu Ga Harus Memiliki

  1. Titong…. gw jadi inget satu quotes ” di dunia ini hanya ada 2 tipe manusia yang akan kita temui, yang pertama yang memberi kita kenyamanan dan yang kedua yang menjatuhkan kita tapi memberikan pengalaman”. bersyukurlah dengan pengalaman yg ada even bad experience.

    Jalanin hidup harus penuh kasih, cinta, maka kita bersyukur dgn apa yg kita punya “When you love what you have, you have everything that you need”
    even our problems…

    Like

    • [/quote] When you love what you have, you have everything that you need [/quote]

      That pretty sums it up din. And you did a solid one at that! Iya, syukur itu ke semuanya, ga cuma yang enak-enak doang, yang ga enak pun juga sebenernya patut disyukuri karena ngasi pelajaran hidup yang indispensable.

      God bless lo din!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s