Orangtua Kita Itu Ga Sekuat Yang Kita Kira

Semua orang yang pernah jadi anak pasti akan ngelewatin masa di mana mereka mulai sadar kalo tingkah laku orangtua mereka ada yang rada ajaib (my personal preferenced term buat yang ga berkenan di hati). Ajaibnya bisa beda-beda satu orangtua ke yang lain, contohnya:

Dari yang ga mau kalah meski tau mereka salah. Ada yang ga bisa dibantah. Ada yang suka ngasi opini gratisan yang sangat uncalled-for (mending opininya relevan juga?). Ada yang jadi suka uring-uringan gara-gara hal sepele (yang bikin satu rumah jadi edgy). Ada yang jadi gampang meledak-meledak (kayak petasan jangwe). Ada yang punya kebiasaan jelek ngebanding-bandingin anaknya sama orang lain (gara-gara kayaknya nganggep anaknya never good enough). Ada lagi yang cepet banget liat negatifnya duluan, alias serba skeptis dan pesimistik. The list goes on.

Continue reading

Mengapa Kita Kuatir?

Semua orang pernah kuatir, every now and then. We know it’s not a pleasant feeling. Kalo aja ga ada kuatir, hidup jaminan jadi nyaman dan nikmat. Tapi dia akan selalu ada, karena penyebab kuatir sebenernya adalah ketidakpastian, sedangkan ketidakpastian adalah (satu-satunya) hal yang pasti dalam hidup. Dan ada rasa ketidakberdayaan yang muncul dari ketidakpastian, akibat tiadanya kendali atas yang akan terjadi dalam hidup.

Continue reading

Kenapa Menikmati Itu Ga Harus Memiliki

Smile

Enjoy + Syukur = Happy

Semua dimulai ketika seorang temen nanya gimana ceritanya orang baik yang bekerja keras itu bisa kalah sama orang curang yang pake jalan pintas. Waktu itu dia baru aja dirundung malang: ditipu di urusan bisnis, which costed him his hard-earned liquid wealth in the process. Dari situ dia ngebandingin kegagalannya sama kemewahan yang berhasil dinikmatin sama koruptor yang somehow belakangan ini sering muncul di tivi. Singkatnya, dia terus nanya (sambil becanda), apakah dia sebaiknya curang aja juga, demi ngedapetin kemudahan dalam hidup?

Just about right there, he committed a flagrant error for making such naive statement. He saw himself as the one outcompeted. Good news is, he never was. Dia, kayak kebanyakan orang, salahnya terletak di caranya ngenilai orang lain. Yang dinilai (sayangnya) cuma didasarin dari yang keliatan dia punya aja. Yang ga keliatan kayak hati dan kasihnya, ga ikut kenilai.

Continue reading