Ga Enak? Kasi Kucing Aja!

cat eating leftovers

I decided to write much shorter post this time, for a change.

If I had a dime for everytime someone says kalo mereka ‘ga-enak’ nerima/minta sesuatu, I would’ve amassed quite a fortune today. Awalnya hal ini ga gitu ngeganggu, but after a while it started to get really old. Dan gw rasa fenomena ini cuma kejadian di Indonesia aja. It needs to be addressed, man.

What Is It?

Ada dua macem situasi yang umumnya rasa ga-enakan ini muncul. Yang pertama biasanya ketika orang about to ask a favor dari orang lain. Contoh kasus yang pertama, misalnya ketika temen mau minjem motor, bilang “Beneran ni gapapa gw pinjem motor lo? Ga enak ni gw”. Yang kedua adalah ketika orang receiving such kindness dari orang lain. Contohnya, misalnya ketika lagi bertamu ke rumah temen dan ortu si temen ini sigap nyiapin jamuan buat si tamu yang ngebikin tamu ini jadi bilang, “Aduh, jadi ga enak nih tante.” Sebenernya darimana asalnya sih rasa ga-enakan ini?

What Causes It?

It stems from low self-worth, in case you haven’t notice. Mereka yang have low self-worth cenderung ngeliat dirinya sendiri ga cukup pantes for it. They feel rather undeserving. They worry that they’re asking too much of a favor. Mereka juga jadi kuatir bakal ngerepotin orang, makanya jadi sering banget keucap, “Wah, jadi ga enak gw ngerepotin”. Menurut gw statement ini justru aneh. Pihak yang nawarin udah made it clear kalo mereka gapapa direpotin. Kalopun seandainya mereka indeed jadi segitu repotnya, toh mereka willing to do it. That’s why mereka nyanggupin. Otherwise they wouldn’t have agreed/offered in the first place.

Low self-worth ini diperparah lagi dengan kecenderungan orang-orang Indonesia yang terbiasa berasumsi jelek. Kebiasaan ini kebentuk gara-gara saking sopannya (terlalu sopan malah menurut gw), sampe takut/ga tega hati untuk ngutarain hal yang dikuatirin bikin suasana jadi ga nyaman. Mereka assume orang lain itu akan keberatan, ato nyanggupinnya ga tulus/sincere. Ada bumbu gerutunya. Padahal, seringkali malah, belom tentu gitu juga halnya, apalagi ke temen. Sering heran gw, udah temen tapi masih aja kaku. Kayak kanebo kering.

The Takeaway

Sebenernya rasa ga-enakan ini cuma ada di kepala doang. Non-existent, so to speak. Manusia kan yang dipegang kata-katanya. Jadi jangan dipertanyakan lagi validitas kesanggupannya, unless stated otherwise. So, all I’m trying to do is to encourage people to be bold and ballsy, as to be self-assured whenever we’re asking for favors. If you ever wonder what the appropriate response would be, just say thanks, sekali aja cukup asal heartfelt. It’ll suffice. Ato bisa juga lo ungkapin inversion-nya dari rasa ga-enakan lo dengan bilang, “Wah, jadi enak nih Oom/Tante/Bro.” Bener ga?

Apakah rasa ga-enakan ini life-threatening dan segitu urgent-nya harus dibenahin? Na’a. But indeed, it is one bad habit that we need to get rid of in order to evolve as better persons. It’s about time we emancipate ourselves from this kind of mental slavery. Pernah satu waktu gw maen ke tempat temen gw. Di sana gw dijamulah oleh dia dengan ini itu, sampe gw ngerasa ‘ga-enak’, dan gw bilanglah ke temen gw soal itu. Temen gw coolly replied, “Kalo ga enak, kasi kucing aja.” Wadezig!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s