Speak Your Mind

Ever have sesuatu yang pengen lo ucapkan/katakan tapi ragu/urung dan akhirnya ga tersampaikan? Gw sering, dan biasanya gw alamin tiap dengan orang yang lebih tua dari gw in general, bisa dari bokap, pakde maupun oom sendiri. Kalo sampe kejadian, it usually results in miskomunikasi. I’d blame ego dari orang yang lebih berumur ini, yang ngebikin dia ga terima dikasitau-in oleh yang lebih muda. (Tau apa lo, masih kecil udah ngasi tau gw?).

Gara-gara pernah satu waktu gw disemprot oleh kata-kata vitriolic dari not-so-dearly oom gw (yang semestinya sangat ga perlu, thanks to his anger management issues), gw jadi kapok from ever having to do it again. Tapi at times, muncul lagi saat-saatnya gw pengen utarakan pikiran gw, dan yes ke orang yang lebih tua. Ini akhirnya led to battle inside my head. Gw yakin battle ini dialamin juga oleh semua orang, tiap pengen speaking up. Tapi bedanya, bagi orang yang udah ngerti, battle-nya tentang timing dan suasana tepatnya, sedang buat yang ga ngerti, battle-nya antara their urge to talk it out versus internal fear that keeps them from speaking up.

Fear Itself

Kecuali fear of God, ya, that’s one exception. Internalized fear yang ngebikin orang ragu untuk ngutarain pikirannya sendiri ini, unsurprisingly banyak ruginya, baik ke dirinya sendiri maupun ke orang lain. Umumnya bentuknya adalah fear of offending, takut nyinggung/ngelukain hati. Kenapa bisa sampe rugi? Yang pertama adalah, karena rata-rata fear ini only exists in our heads. Gw sering banget takut akan sesuatu yang akan gw hadapin (karena I didn’t know what to expect), only to find it ga semenakutkan yang gw bayangin.

Yang kedua, it makes for a dysfunctional communication. Kita semua tau di sini bahwa communication adalah ingredient utama to a successful relationship. Baik dengan orangtua, keluarga, bos, maupun ke pacar, ato bahkan klien. Semuanya butuh report dan transparansi dan kejelasan, apalagi kalo lagi ada kendala. Kenapa bisa jadi dysfunctional, karena fear tadi bikin dia jadi unable to speak on his behalf, jadi komunikasi yang harusnya berlangsung dua-arah jadi terputus. Disconnected on one end of the line. Fear ini juga bakal nge-drive dia away from ever solving the communication problems readily. Jadi terpaksa pake ritual kucing-kucingan dulu. Apa ga repot?

Yang ketiga, adalah only by conquering our fear dengan speaking up, we properly protect what’s important to us; be it our ideas, principles, feelings, faith, dignity. Ketika prinsip dan pendapat kita diserang, masak kita ga stand up/lawan? That way, we also protect ourselves from bullies. Hari gini dibuli? Dengan orang ga ngutarain pikirannya, brati dia ga ngelindungin dirinya sendiri (dan juga orang lain). Perlindungan diri/self-defense adalah salah satu hallmark dari healthy egoism, yang apparently kita butuh supaya kita bisa high-functioning. Especially true buat orang-orang yang masuk kategori people-pleasers, mereka yang sampe go out of their ways to please people, sampe mereka sakit sendiri. These people are in dire need to exercise healthy egoism, and to watch out for users; those who are out to use other people to their advantages.

Alasan yang terakhir, kenapa internalized fear ngerugiin, adalah karena the only way in order to spare all the possible misery, heartache and humiliation hanyalah melalui, well, ngomong. Orang yang ga bisa nolak, unable to say no, bakal jadi makanan empuk orang-orang yang suka manfaatin orang, even bullies. Sedang buat orang yang ga bisa speak for themselves, relationship problems are only waiting to happen, gara-gara dysfunctional communication tadi di #2. Sumber stress juga itu, kalo perkara-perkara kekecewaan, keluhan, kepahitan, semua disimpen dalam hati, dan ga dikeluarin/dikelarin dengan sehat. Why not take the trash out? Do yourself a favor and put an end to your misery. Speaking up your mind always works wonders, for the most part, because…

We’re Not Mind-Readers

Orang-orang yang ga terbiasa ato ga pernah belajar how to speak their minds, biasanya akan cope dengan mekanisme lain, yang (sayangnya) caranya ga straightforward. Ini termasuk pake kode to imply things that weren’t universally understood, ato yang lain berupa assumptions. Jadi karena ga-enakan untuk ngungkapin langsung, mereka pake bahasa monyet, ato even say nothing at all karena dia assume orang lain udah/akan mikir hal yang sama. And you guessed right about the part that that method don’t usually work. It may even result in casualties.

Ada lagi kejadian waktu gw masih KKN di desa nelayan di Pacitan. Saat itu kita lagi ngadain penyuluhan warga setempat, dengan bantuan Puskesmas yang juga punya program sama. Jadinya in a way, kita ngebantu satu sama lain. Terlibatlah satu pekerja Puskesmas setempat dengan kita. Selepas acara dia hung around for a while sama kita, abis itu pamit pergi.

Unbeknownst to us, ternyata selama dia ga langsung pulang setelah acara itu, dia ngarepin kocek duit atas alasan udah bantu/direpotkan (padahal itu acara sosial, dan kita lagi ga ada budget lebih juga). Kan tinggal ngomong, bukan? Tapi yang terjadi malah dia dateng, dia assumed, dia ga made it clear ke kita tentang assumptions-nya dia, dia ga dapet apa yang dia harapankan, dia dongkol, dia pergi, dan dia talked trash about us behind our backs.

I guess it’s safe to say that assumption is the mother of all screw-ups. Granted, we don’t fancy clues or hints. We prefer it being plainly told as it is. Now it’s a matter of…

The How

I always strongly recommend knowing before speaking. Selalu tau apa yang lo pengen katakan. Plan ahead. Tapi kadang sulitnya kita cuma ngalamin, tapi bingung ngungkapinnya. Bahasa Indonesia juga bukan bahasa dengan perbendaharaan kata yang seluas English, jadinya the words couldn’t accurately paint the feeling in its appropriate light. Tapi ini bisa dilatih. Makanya we need to practice the habit of reflecting on ourselves. Jadi kita ngerti, dalam gambaran yang besar, yang sebenarnya terjadi apa, and how you would feel about it. Kalo udah bisa sampe gitu, kita baru akan bisa ngeliat masalahnya dari kaca mata orang ketiga, yang objektif.

Tapi kadang susah ngeliat gambaran besar keadaan ketika kitanya lagi dirundung masalah bertubi-tubi, yang bikin pikiran jadi ga jernih. Ga ada salahnya juga cerita ke trusted friend, ato orang yang pendapatnya kita greatly valued. However, keep it short and sweet, jangan terlarut dalam litani haru biru yang jadinya malah ga fokus sama solusi terbaiknya. Begitu kita tau hal-hal yang mau disampein, we increase our chances of succeeding in getting our point across ke orang-orang.

Pra-delivery, gw ngebagi orang/target jadi dua kelompok, berdasarkan kemungkinan reaksi baliknya kayak apa. Kelompok yang pertama itu relatively harmless, tapi kelompok orang yang kedua bisa gigit balik (ja’ing kali gigit?). Kelompok yang pertama, bisa dibilang mereka adalah easy cases, the safest to approach. Ini karena mereka dikasitaunya gampang, pelan aja mereka udah ngerti. Mereka mrosesnya lebih anggun dibanding kelompok yang satunya. Kelompok ini biasanya termasuk mereka yang punya hypersensitivity (biasanya mereka into arts), dan orang-orang yang memang good-natured.

The second group of people, however, proved to be the more challenging one. Mereka adalah orang-orang yang capable of gigit kita balik kalo dikasitau-in. Biasanya kelompok ini terdiri dari yang ego-tinggi dan yang punya anger management issues. As soon as you identify these traits di orang tujuan lo, do expect some kind of retaliation. Orang ego-tinggi dan mereka yang punya anger management issues, biasanya kalo dikasitau, suka disalahpersepsikan sebagai personal attack, makanya jadi marah. Marah/bete-nya ditunjukkin dengan jadi super pasif (passive-aggresive), marah a la South Asia, ato nyerang balik secara verbal (active-aggresive) at that instant.

Mereka bisa juga jadi super defensif and start to adopt hostile overtones ke yang ngasitau mereka. Tapi itu cuma front & mekanisme proses mereka aja, sebenernya deep inside mereka juga mikir. Jadi the expected results can not be seen rightaway. Truth hurts, so give them their time and space to process. As ball-busting as that sounds, I’m afraid it’s the only way kita bisa ngasi tau mereka. Kesengat-sengat dikit gapapa lah, biar punya luka-luka perang. It won’t kill you. Nunjukin ke mereka juga kalo we’re above them, kita ga takut berbeda pendapat sama mereka.

Semua ini, however, hanya berlaku kalo dilakukan in person (shocker, I know). Social media bukanlah jawaban. Generasi sebelom kita yang waktu itu belom kenal social media bisa-bisa aja kok. Kita, however, yang hidup di jaman mekar-mekarnya social media, cenderung do worse at face-to-face interaction, caused by us relying greatly on social media to interact/socialize.

I don’t fancy people yang deliberately document their angry and vile thoughts on their statuses. Gw rasa mereka butuh medical attention (!), or at least an intervention on our part. Apa intinya nulis malignant status di social media? Biar subjek yang lagi kita bicker about jadi baca? Not likely. Apa dengan nulis status kesel/marah kita jadi nge-improve suasana for the better? Don’t think so. Jangan buka aib diri juga di public domain gitu lah. Resist the temptation of putting it up on social media at all cost. What is private to begin with should remain private, not turned into public consumption.

Instead of lewat social media, I think we should man up, own up, then go up to the person in question and tell him/her about it. Untuk efek maksimum & ensure eksekusi cantik, pancing ke suasana yang kondusif buat ngobrol, misal pas lagi di dalem mobil, yang nge-confine penumpangnya ga bisa ke mana-mana. Jangan di pinggir jalan raya aja ato sambil nonton MotoGP Live, ato lagi el clasico. Timing (and placing) is everything. But despite all of these things you should take into considerations, you should always care to…

Pick Your Battles Wisely

Maksudnya? Jangan perangin perkara/battle yang sia-sia. Sia-sia di sini maksudnya baik kalo it won’t do us or anybody any good, or one of those battles that we are not meant to win. Hindarin juga perkara-perkara yang bakal drain your energy, physically and emotionally (unless you know what you’re doing). Gw ga nyaranin juga adu argumen/speaking up ke orang yang gede, serem, dan bisa ngelukain orang hanya dengan tangan kosong, dalam sekejap. Itu namanya fear of benjol. (Duh?)

Tiap kali kita ragu whether we should blurt it out or not, always keep in mind that ‘Those who mind don’t matter and those who matter don’t mind‘. Mereka yang keberatan itu ga penting, dan mereka yang penting ga akan keberatan. Kalo ada mereka yang keberatan/pay no attention, I’d say that’s a sign that you shouldn’t invest anymore energy in them.

Gw kagum dan heran banget dengan budaya barat, kayak yang biasa kita tonton di TV kabel, yang sangat mampu ledek-ledekan (sampe parah), tapi tetep chill & be cool with it. Kenapa kita ga bisa kayak gitu? This rigidity of behaving of ours needs to be reinvented. It’s not 1960 anymore. Ada yang pernah jelasin ke gw, kalo itu gara-gara their hearts are in the right place (lo harus nonton TED-nya Seth MacFarlane). No wonder they seem happier, live longer lives, more attentive to their well-being and their quality-of-life. (Clearly, they are able to regulate their emotions masterfully to pull it off). One of the more things we need to learn from them.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s