Quarter-Life Crisis

Kalo ada yang namanya Mid-Life Crisis, krisis yang umumnya dialami oleh insan yang telah menginjak usia paruh-baya, dia pasti bermutasi, ato setidaknya beranak jadi Quarter-Life Crisis. This year I’m turning 25, yet I can totally relate to what it’s all about. Krisis yang semestinya dari judulnya aja udah jelas hanya dialami ketika orang at least umur 50, gw udah rasain dari sekarang. Hidup rasanya kok singkat, tinggal sebentar lagi aja. It keeps on swirling inside my head from time to time. Mostly isinya adalah seputar what to do with my life, what career path I should embark on.

Apa yang gw pengen lakuin untuk sepanjang hidup gw? Banyak. Honestly, it’s that many. Kalo gw ngadopsi dari film Bucket List, list gw bakal jadi panjang banget. Dari snowboarding, bungee jumping, skydiving, safari, nyelam, gubah lagu buat orkestra, nulis novel fiksi, bikin film, travelling dan tinggal di masing-masing benua yang ada (kecuali Antartika, that’s for sure!) for at least 5 years, learn as many languages, et cetera. Setelah dipikir-pikir, bener banget kata kakak gw, kalo gw tergolong BM, stands for Banyak Mau. But i guess, there’s nothing wrong with being BM. Gw rasa semua orang itu BM, termasuk my dear big brother, cuma bentuk BM-nya aja yang beda-beda. Tapi satu garis kesamaan dari semua hal yang gw mauin itu adalah, gw orangnya selalu pengen belajar banyak hal baru. Selalu ingin banget belajar banyak hal baru, to the point of itu sampe bikin gw gugup at the thought of having to immerse myself deeply in one particular area of expertise. Gw gak mau missing out on other wonderful things that the world has to offer. Apa gw jangan-jangan ngidap commitment issues?

Gw pernah baca, kalo orang bisa dikategoriin jadi dua kelompok, in terms of gimana mereka nge-explore hal-hal baru. There are deep diver people, and then there are scanner people. Deep diver adalah orang-orang yang spend a lot of time honing their skills, deliberately or unknowingly, in just one or few particular areas. Pada akhirnya, orang-orang deep diver ini jadi experts di bidangnya masing-masing, entah itu di bidang culinary arts, sports, academics, or even just ngupil. Iya, ngupil. Saking jagonya ngupil, sampe dia bisa ngupil pake dua jempolnya di saat yang bersamaan. How many people could do that? Ok, that sounds terribly creepy, but you get my point. The second group of people, called the scanner, essentially adalah kebalikannya deep diver. Namanya aja scanner, pemindai, kayak printer/scanner kita yang sekilas kerjanya kayak wiper kaca mobil depan. Bayangin areas of expertise di-laid out dijejerin di depan kita, dan mata kita mindai dari kiri ke kanan all the way sampe ujung. Get the picture? Orang-orang scanner tertarik dengan buanyak macem hal, yang not necessarily related to each other, dan biasanya gara-gara driven by their curiosity. Tapi somehow mereka ga ngedalemin bidang-bidang yang interest them ini segitu dalemnya banget. Kenapa? Jawabannya bisa beberapa, salah satunya bosenan (ketika mereka ngerasa udah cukup ngerti, mereka akan move on, ga tertarik untuk spend any time longer on that subject, menuju ke subjek selanjutnya).

Speaking of bosenan itself, somehow gw ngerasa that term has a negative ring to it, especially di sini di dear motherland Indonesia. In effect, ga enak rasanya kalo ada orang ngelabel kita ‘bosenan’ orangnya. I need to do it justice. It’s not a crime, It’s not even a victimless crime to be bosenan. Bosenan bisa jadi karena emang orang itu cepet ngerti (baca : gifted), karena misteri yang draws them in in the first place is no longer there. Kayak gebetan yang atraktif banget pas lagi fase approach, tapi ketika udah pacaran akhirnya bisa jadi bosen. The mystery wanes. Anyhow, scanner people always seek novelty, they feel much more alive that way. They refuse to live like mindless zombies yang go about their mundane daily tasks. Tapi bukan berarti orang-orang deep diver itu jelek, ato lebih baik dari scanner people in general. They’re just two different people, complete opposite of each other. Their brains are wired differently. So they might as well respect each other’s differences, instead of belittling what the other is not. Kisah hidup mereka tentunya akan jadi sangat berbeda banget, which affects their very own definition of success. (Another reason why we shouldn’t compare ourselves with other people). Tapi kalo dipikir-pikir lagi, mungkin ada juga yang in-betweeners (after all, they even say there’s fifty shades of grey. Fifty! Neither white nor black!), deep scanner dong namanya?

Gw sendiri? I firmly believe I fall into the scanner category. List panjang BM gw kind of speak for itself. And let me tell you my woes; one of it being gw having a hard time deciding career path mana yang mau gw go down on. Which leads to the second problem: vocation. Karena gw scanner dan gw BM, naturally gw punya banyak hal yang pengen gw jadiin karir, that is, making money from what I do best and genuinely love to do. Tapi salah satu hal (ada banyak!) yang jadi batu sandungan buat gw dari memutuskan adalah gw bingung hal yang mana yang mau gw terjunin. Gw ngerasa kayaknya gw equally good at whatever thing that I’ve set my eyes on. Gw inget banget during the time after I graduated kuliah, gw sempet coba masukin lamaran kerja ke beberapa perusahaan, yang salah satunya adalah bank (figures, right? ahahah!). During one phase of the selection process, kalo ga salah pas lagi interview, si interviewernya nanya ke gw tentang perusahaan mana aja yang udah gw lamar. No point of lying juga, gw jawab aja sejujur-jujurnya kalo gw udah coba juga di saat yang bersamaan, masukin ke perusahaan ini itu. Dari jawaban gw, si interviewer terlihat bingung, dan kemudian nanya gw, kok perusahaannya beda-beda semua bidangnya. That particular question stuck with me, even until now. If we had spoken the same language, she would’ve probably asked, “Kok BM banget, Mas?”. Haha. Recalling it bahkan bikin gw terkekeh-kekeh sendiri, karena saking benernya dan spot-on komentarnya, dan bikin gw sadar kalo opsi untuk perihal bidang yang bisa gw telusurin itu banyak.

This finding solidified my status as a scanner. Or at least that’s what I thought. Dari engineering, bank, journalistic reporting, dan above it all, gw ngimpi banget pengen karir di industri kreatif. Gak ada yang nyambung masing-masingnya. Gw ngerasa bisa-bisa aja nge-forge karir di manapun, tapi hati gw bimbang. Bukan mendua lagi ato mentiga, tapi menlima (is that even a word?). Can, but not necessarily want to. Yet making decision has become such a daunting task. Itulah juga kenapa, gw sangat-sangat ngiler dengan yang namanya The American Dream, di mana orang-orang bisa jadi zero-to-hero, plus/karena di-support juga dengan budaya yang menghargai kerja keras (tau awalannya George Clooney ato Brad Pitt?). Sangat kebalikan dengan di sini (baca : Negara Dunia Ke-Empat), yang kasusnya malah jadi from hero-to-zero (inget mantan-mantan atlit penyumbang medali dan nama harum bagi negara, tapi sekarang nasibnya jadi tukang jual baso? or apalah!), dan budayanya yang MALAS, di mana masyarakatnya terbiasa go for the smallest effort possible (tapi pengennya the biggest reward possible! asli orang-orang kayak gini yang bikin ni negara ga maju!). Kok bisa pola pikirnya, “Karena gw dibayar jumlah upah yang sama baik untuk usaha maksimal dan minimal, kenapa gw harus ngasi usaha maksimal? Nyapein dan mendingan ke mana-mana banget gw kasi yang minimal.” Or at least that’s what I have observed all this time. Moga-moga gw salah (moga-moga sih gak, kalo salah brati gw bukan good observer dong!). However, to take the heat from the seemingly naive crowd, I say that’s not entirely their fault. Lo tanya gw, whose fault is that? Frankly? Don’t even get me started with that one. It deserves its own topic.

Kembali ke laptop, The American Dream. Saking ngilernya gw, sampe gw suka bilang ke temen-temen gw kalo gw ngerasa gw lahir di belahan bumi yang salah. Segitunya gw mesmerized dengan budaya kerja dan work ethic (sama aja ya? haha!) orang barat, particularly the US. No wonder mereka jadi negara adidaya di modern-day world. Karena ga ada american dream di sini, jadinya gw takut (ya, takut) untuk memulai karir di bidang kreatif (in spite of wonderful rich inner world yearning to be expressed, yang ngebikin gw dengan gampang conjure crazy ideas out of nowhere). Liat aja seniman-seniman Indonesia masih cuma sedikit yang berhasil made their marks in the world. Mereka yang ga sebegitu beruntung, harus terpaksa survive dengan pemasukan yang serba berkecukupan (eufemisme dari pas-pasan). I can’t afford that, not after my dear parents have invested so much time and money in my higher education. So yeah, as you have read it, gw masih stuck di persimpangan jalan ini. The so-called ‘Crossroads’, kayak judul filmnya Britney Spears, sebelom dia launched herself into oblivion. I sincerely hope time will help me settle down with my decision once and for all, and finally able to find the courage to live my dream, where I’ll able to freely express myself (and make a fat living out of it, of course!). To quote the great poet Langston Hughes, “Hold fast to dreams, for if dreams die, life is a broken-winged bird that cannot fly. Hold fast to dreams, for when dreams go, life is a barren field frozen with snow.” Such a moving poem. Mungkin suatu hari harus gw tato kata-kata ini di bagian badan yang visible to the viewing public. Or not.

So there goes the crisis. Nulis selalu berhasil buat gw feel better. Hopefully dengan putting it out there, gw bisa reach out ke orang-orang yang mungkin sempet at one point in their lives pernah ngerasain/ngalamin hal yang sama. It’s always good to know we’re not in this alone.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s