The Right Time to Get Married

Alkisah seorang anak laki-laki bernama Budi, selepas wisuda sekolah menengah atasnya, bertanya kepada ayahnya apa yang harus ia lakukan selanjutnya pasca kelulusan jenjang wajib sekolahnya. Si ayah lantas menjawab bahwa Budi sebaiknya go to college. Fast forward sekian tahun kemudian, Budi berada pada hari kelulusan kuliahnya, dan iapun bertanya lagi pada ayahnya, tentang apa yang harus dia lakukan berikutnya.

Si ayah terdiam sejenak, lalu menyarankan bahwa mungkin ia sebaiknya get a job. Budi did just that. Fast forward lagi ke beberapa tahun ke depan, Budi yang sudah bekerja lalu bertanya lagi kepada ayahnya, pertanyaan sama yang ayahnya pernah dengar sebelumnya, “Dad, now what?” Si ayah dengan tidak yakin kemudian menjawab, “I don’t know. Get married.”

Continue reading

Quarter-Life Crisis

Kalo ada yang namanya Mid-Life Crisis, krisis yang umumnya dialami oleh insan yang telah menginjak usia paruh-baya, dia pasti bermutasi, ato setidaknya beranak jadi Quarter-Life Crisis. This year I’m turning 25, yet I can totally relate to what it’s all about. Krisis yang semestinya dari judulnya aja udah jelas hanya dialami ketika orang at least umur 50, gw udah rasain dari sekarang. Hidup rasanya kok singkat, tinggal sebentar lagi aja. It keeps on swirling inside my head from time to time. Mostly isinya adalah seputar what to do with my life, what career path I should embark on.

Continue reading